Niat Mulia Guru Honorer di Demak demi Bahagiakan Lansia di Desanya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Demak - Pemuda adalah tulang punggung bangsa. Mereka akan menjadi penerus tradisi yang pernah ada atau bisa juga sebagai agen perubahan untuk masa depan. Di Demak, Jawa Tengah, ada seorang pemuda yang bermimpi mengubah rasa sepi para lansia menjadi hari-hari yang berharga pada masa tua.

Namanya Muhammad David Mauliniam. Pemuda asal Desa Cangkring Kecamatan Karanganyar Mijen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terbilang memiliki impian unik. Jika generasi muda lain membangun mimpi di bidang olahraga, bisnis, ataupun hal lain yang khas anak muda, maka anak muda yang gemar berorganisasi ini justru ingin mengubah nasib para lansia.

"Saya prihatin dengan kehidupan mbah-mbah di sini. Di masa tuanya mereka sendiri. Sering merenung karena tak ada yang bisa mereka kerjakan," David mengungkapkan.

Berbekal empati terhadap orang tua-orang tua yang hanya termangu dalam kesehariannya, maka David pun memutar otak supaya lansia yang rata-rata berada di bawah garis kemiskinan ini memiliki aktivitas untuk mengisi hari di usia mereka yang makin senja.

Tak dinyana, beberapa bulan yang lalu, David pun mendapat ide membuat pot berbahan dasar serabut kelapa. Pemuda yang juga seorang guru honorer di sebuah sekolah menengah pertama ini, bahkan rela berutang di koperasi untuk modal awal usaha yang dirintisnya demi bisa mendampingi masa tua para lansia di daerahnya.

Dia juga tak mengeluh meski karena utang tersebut honornya terpangkas habis bahkan menyisakan minus sekitar 14 ribu rupiah tiap bulannya.

"Sudah saya niati, usaha pembuatan pot serabut kelapa ini dikerjakan oleh mbah-mbah. Buat silaturahmi saja," David mengatakan.

Para lansia yang dirangkul oleh David rata-rata berusia antara 60-80 tahun. Pekerjaan membuat pot berbahan dasar serabut kelapa itu tergolong sangat ringan, bisa dikerjakan sambil duduk santai. Tak ada batas waktu atau target tertentu. Para lansia tinggal duduk di rumah, David lah yang mengirim bahan baku dan mengambil hasil karya mereka.

Kebahagian Para Lansia

Setiap hari David mengirim bahan baku berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. Ia mengatakan proses door to door-nya tersebut sebagai salah satu pendampingan terhadap para lansia. Ia akan menanyakan kabar dan mengobrol santai untuk mengusir kesepian para lansia yang rata-rata tinggal sendiri di rumah tua mereka.

"Mereka kesepian. Butuh orang yang bisa diajak ngobrol di masa tuanya." kata David dengan mata berkaca-kaca.

Mbah Temu (61) mengaku sangat terharu dengan kepedulian David. "Maturnuwun sanget wonten Mas David. Sakniki mben dinten kula wonten kanca ndongeng biasane kula dewenan. Kula damel pot ngaten artane ngge tumbas obat. (Terimakasih sekali ada Mas David. Sekarang tiap hari saya ada kawan berbincang biasanya saya selalu sendiri. Saya membuat pot ini kalau dapat upah uangnya untuk beli obat.)" tutur Mbah Temu yang tinggal sebatang kara aat ditemui di gubuk setengah miring dan dinding bolong di sana sini serta lantai yang masih tanah, Rabu, 28 Oktober 2020.

David memang memberikan upah produksi. Biasanya para lansia mendapat Rp1.500 per pot yang dihasilkan. Rata-rata tiap hari mereka mampu membuat 10 buah pot sesuai dengan kondisi fisik mereka yang makin lemah. Tentu saja di tengah pandemi Covid 19 yang belum juga usai, uang itu bisa untuk menyambung hidup para lansia.

Mereka yang selama ini tak berpenghasilan serta kesepian kini mulai berwajah cerah sebab di masa senja masih merasa berharga dan dapat berkarya.

"Saya hari sumpah pemuda. Dan saya mencintai bangsa ini dengan cara saya sendiri. Saya ingin berbakti untuk negeri dengan mendampingi para lansia di usia senja." Tutupnya.

Simak video pilihan berikut ini: