Nissan Motor Distribution Indonesia Dukung Sepenuhnya Pajak Emisi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas PP Nomor 73 Tahun 2019, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil baru berdasarkan emisi yang dihasilkan mulai berlaku 16 Oktober 2021.

"Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu dilakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai PPnBM untuk kendaraan plug-in hybrid dan hybrid dalam PP Nomor 73 Tahun 2019," bunyi kutipan dalam PP tersebut.

Dalam PP terbaru ini, pemerintah memperbarui pasal 36 PP 73 Tahun 2019, yang mengatur tarif PPnBM atas kendaraan bermotor berteknologi PHEV, battery electric vehicle (BEV), dan fuel cell electric vehicle (PCEV). Untuk PHEV dikenakan tarif PPnBM sebesar 15 persen dengan DPP sebesar 33,33 persen yang tertuang dalam pasal 36 A.

Menanggapi aturan tersebut, PT Nissan Motor Distribution Indonesia (NMDI) mengaku siap mendukung pemerintah Indonesia sepenuhnya.

"Pemerintah menerapkan satu aturan baru mengenai PPnBM, jadi ini merubah struktur industri otomotif di Indonesia yang sudah lama dibicarakan. Ini saatnya pemerintah memberlakukan aturan ini, saya percaya dengan adanya perubahan ini struktur otomotif akan sedikit bergeser, akan terjadi perubahan-perubahan ke depannya," ungkap Tan Kim Piauw selaku Direktur Sales & Marketing PT NMDI saat Ngovsan Forwot bersama Nissan Indonesia, hari ini (6/10).

Menurut Tan Kim Piauw, aturan ini bisa membuat industri otomotif Indonesia semakin sehat dan berkembang. " Kami Nissan siap mendukung program pemerintah, ikut serta dalam perubahan ini, ini sesuatu yang kami percaya akan semakin baik untuk industri otomotif ke depannya," pungkas Tan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Mantan Bos Sebut Nissan Jadi Perusahaan Mobil yang Membosankan

Mantan CEO Nissan, Carlos Ghosn mengkritik pabrikan asal Jepang tersebut, dalam sebuah wawancara saat mempromosikan bukunya, Broken Alliances.

Berbicara dengan Fox Business, disitat dari Carscoops, Ghosn mengatakan bahwa banyak orang di dalam Nissan yang tidak menyukai gagasannya mendorong kolaborasi yang lebih besar dalam aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi, dan sebaliknya menginginkan lebih banyak otonomi. Sejak kepergian dan penangkapan dirinya, Ghosn menyarankan bahwa semuanya telah menurun bagi jenama asal Negeri Matahari Terbit tersebut.

"Nissan kembali seperti 1999, sayangnya, setelah 19 tahun bekerja, sebagai perusahaan mobil yang membosankan dan biasa-biasa saja, yang akan berjuang untuk mencoba menemukan tempatnya di industri mobil," ujarnya.

"Kami sedang membangun sebuah sistem di mana perusahaan ini akan menjadi bagian dari sesuatu yang benar-benar baru dengan banyak inovasi teknis," tambahnya.

Sementara itu, terkait bukunya, Ghosn mengatakan itu menceritakan dirinya, bukan cerita yang didorong oleh Nissan sejak penangkapannya.

"Pemerintah Jepang dan beberapa eksekutif berpikir bahwa keseimbangan yang ada antara Prancis dan Jepang dalam aliansi ini tidak akan dihormati,” kata Ghosn, seraya menambahkan bahwa Pemerintah Prancis bertindak dengan cara untuk mendapatkan bagian yang jauh lebih besar di negara mereka.

Infografis 11 Aplikasi Terintegrasi PeduliLindungi

Infografis 11 Aplikasi Terintegrasi PeduliLindungi. (Liputan6.com/Niman)
Infografis 11 Aplikasi Terintegrasi PeduliLindungi. (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel