New Normal adalah ZOOM

Syahdan Nurdin, ViryanAzis

VIVA - Kemarin tiga pertemuan daring saya jalani bersamaan, RDP Komisi II DPR, mengisi diskusi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan agenda KPU Sumut.

Saya pertama kali menggunakan ZOOM, Senin, 16 Maret 2020 saat transit di Bandara Supadio, Pontianak. Komunikasi via Zoom untuk kebutuhan koordinasi dengan Bawaslu RI dan Cyber Crime Polri terkait persiapan kampanye daring Pilkada 2020.

Layaknya newbie tentu katro dan perlu adaptasi beberapa waktu. Aplikasi ini dipilih karena mudah, fiturnya sesuai kebutuhan dan pembicaraan yang biasa. Kebutuhan bekerja dimasa Covid-19.

Beberapa hari selanjutnya karena cocok, saya mulai ajak beberapa kolega melakukan rapat daring tersebut. Kebuntuan komunikasi dan koordinasi kerja mendapat solusi.

ZOOM menjadi salah satu pihak yang mendapat berkah di masa Covid-19. Eric Yuan melejit. Bulan April 2020 namanya masuk daftar miliarder Forbes. Kekayaannya diperkirakan melonjak menjadi US$ 7,8 miliar atau Rp120 triliun.

Nasib baik ZOOM (2011) melewati pendahulunya seperti Skype (2003) atau google meet (2017) besutan raksasa Google.

Kemudian kekurangan ZOOM disoal terkait peretasan pembicaraan atau pun keamanan komunikasi. Sesuatu yang wajar dalam kompetisi. Ini lebih mirip persaingan tak sehat. Bahasanya, susah melihat orang senang.

Zoombombing terjadi pada beberapa kasus saat konferensi berlangsung. Sebagai aplikasi rising star wajar kemudian hal tersebut segera viral.

Namun pengelola ZOOM mengambil langkah baik. Tetimbang membela diri, mereka segera berbenah. Eric menyampaikan secara singkat rencana keamanan platform 90 hari.

Awal April ZOOM merekrut Alex Stamos mantan kepala keamanan facebook dan sejumlah pegawai Yahoo.

Tanggal 16 Mei saya dapat email dari ZOOM menginformasikan versi 5.0 akan hadir per 30 Mei 2020. Email sederhana yang memberi pesan bahwa mereka berbenah.

Pertengahan Mei 2020 ZOOM melakukan lagi ekspansi SDM dengan merekrut 500 insinyur perangkat lunak.

Langkah ZOOM di masa Covid-19 yang agile dan kerja dalam sunyi mirip langkah Eric yang satu lagi. Pendiri Google yang dipuji oleh Roger McNamee, Mr. New Normal dalam wawancara yang dipublikasi web fast company, 30 April 2003.

Roger menyatakan di masa New Normal kepemimpinan yang bekerja dalam sunyi efektif. Mungkin ungkapan ini mengkritik sejumlah pelaku IT disana yang suka popularitas. Kepemimpinan yang hanya relevan di masa Old Normal.

Namun, bukan pula bekerja dalam sunyi tanpa hasil. Itu lebih cocok disebut kemalasan dalam sunyi. Pun ini masih lebih baik daripada kemalasan yang ribut.

Sibuk komentar dan postang-posting setiap hari dengan kebencian dan fitnah tanpa data dan cara pandang yang baik. Menjadi bagian yang mengotori aliran informasi publik.

Kini ZOOM sedang menikmati masa baiknya. Penggunanya melonjak lebih 300 juta, harga sahamnya meroket. Buah dari kerja produktif dalam sunyi.

Tak salah bila ZOOM identik dengan New Normal, era yang baru dimulai...#NewNormal. (Penulis: Viryan Azis, Komisioner KPU)