Nostalgia Hanafing, Panggilan Bos dan Menjadi Juru Bayar Bonus di Niac Mitra

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Makassar - Hanafing bergabung dengan Niac Mitra jelang musim 1982-1983 kompetisi Liga Sepak Bola Utama (Galatama). Bersama klub Surabaya itu, Hanafing sukses meraih dua trofi juara yakni pada 1982-1983 dan 1987-1988. Ia pun menjadi pemain generasi terakhir Niac Mitra sebelum berganti nama menjadi Mitra Surabaya pada 1990.

Dalam channel YouTube Omah Balbalan, Hanafing menceritakan suka dukanya ketika berkostum di Niac Mitra. Hanafing direkrut oleh Niac Mitra dari Bima Kencana, klub Galatama asal Makassar. Ketika itu, usia Hanafing baru 18 tahun tahun. Di musim pertamanya, Hanafing mendapat gaji Rp75 ribu perbulan. "Nilai itu sudah lumayan besar untuk pemain muda seperti saya. Menjadi bagian dari klub sebesar Niac Mitra sudah menjadi kebanggaan tersendiri buat saya," kenang Hanafing.

Apalagi pemilik Niac Mitra, Agustinus Wenas kerap memberikan bonus yang besar buat para pemain bila memenangkan pertandingan. "Jumlahnya bisa tiga kali lipat dari gaji. Tergantung lawan yang dikalahkan dan jumlah penonton di Stadion Tambaksari," terang Hanafing.

Menurut Hanafing, tradisi pembagian bonus ini jadi momen yang paling ditunggu oleh pemain. Termasuk ketika Hanafing sudah menjadi pemain senior di Niac Mitra. Usai meraih trofi juara pada 1987-1988, sejumlah pilar Niac Mitra pindah ke klub lain. Diantaranya Freddy Muli, Yessi Mustamu dan Jaya Hartono. Hanafing sejatinya nyaris pindah ke Pelita Jaya yang tertarik memakai jasanya.

Namun, niatnya untuk ikut angkat kaki dari Niac Mitra tak terwujud setelah Wenas memanggilnya secara khusus. Pada pertemuan yang berlangsung di rumah Wenas, sang bos Niac Mitra itu meminta Hanafing agar tetap bertahan.

"Pak Wenas bilang tenaga saya sangat dibutuhkan oleh Niac Mitra," ungkap Hanafing yang kemudian mendapat kenaikan gaji menjadi Rp350 ribu per bulan.

Jadi 'Bos' Pemain

Status sebagai pemain senior plus kedekatannya dengan Wenas membuat Hanafing didaulat menjadi kapten dan mendapat panggilan bos oleh rekan-rekannya di Niac Mitra. Terkait hal itu, Hanafing menjelaskannya.

"Sebenarnya panggilan bos itu adalah sapaan biasa di Makassar. Mungkin karena saya asli Makassar, teman-teman memanggil saya dengan julukan itu," ungkap Hanafing.

Panggilan ini kian melekat pada Hanafing setelah diserahi tanggung jawab oleh Wenas untuk membagi uang bonus usai pertandingan. Selain itu, Hanafing kerap membantu manajemen dalam membuat laporan keuangan terutama pada laga tandang. "Saya adalah tipe orang yang ingin terus belajar. Selain tahu cara mengelola keuangan pada laga tandang, saya juga selalu mencatat intruksi atau strategi yang disampaikan pelatih kala briefing pemain. Itulah yang kemudian menjadi modal saya saat menjadi pelatih dan instruktur," papar Hanafing.

Momen Lucu

Terkait pembagian bonus ini, Hanafing mengungkap momen lucu dan berkesan. Setiap menjamu lawan, Hanafing dan kawan-kawan menjadikan tingkat kepadatan penonton di Stadion Tambaksari untuk mengukur nilai bonus yang akan mereka dapatkan usai laga. "Teman-teman selalu meminta saya untuk memprediksi nilai bonusnya. Cara ini kerap jadi motivasi tersendiri buat kami."

Biasanya kalau menang melawan tim elite, Wenas langsung memanggil Hanafing untuk mengambil bonus di rumah atau di kantor. Persentase bonusnya adalah 100 persen buat pemain inti atau cadangan yang berkontribusi saat tampil. Sementara pemain cadangan lainnya mendapat 75 persen. "Ada juga yang namanya tim doa yakni mereka yang tidak masuk line-up. Nilai bonusnya 50 persen," terang Hanafing.

Setelah menerima bonus dari sang bos, Hanafing segera meluncur ke mes menemui para pemain yang sudah menunggu. "Saya sengaja lewat pintu belakang dan masuk kamar. Di kamar, saya memasukkan uang ke amplop dan mengetik list nama untuk ditandatangani pemain untuk dilaporkan ke Pak Wenas," pungkas Hanafing yang mengaku langsung menyimpan bonusnya itu di bank.

Video