Nostalgia Seger Sutrisno, Sempat Jualan di Stadion Hingga Membawa Persebaya Juara

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Surabaya - Nama Seger Sutrisno cukup dikenal sebagai seorang sosok yang membawa Persebaya Surabaya meraih gelar juara. Torehan itu berhasil didapatkannya semasa masih menjadi pemain hingga sebagai pelatih.

Pria kelahiran 1966 itu menceritakan perjuangannya untuk menembus skuat Persebaya Surabaya yang tidak mudah. Dia mengawalinya dengan berjualan di sekitar Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya.

“Saya waktu kecil jualan di Tambaksari (sebutan akrab Stadion Gelora 10 November). Capek setelah jualan, saya duduk sambil menonton pertandingan. Saya membatin, ‘kapan bisa jadi pemain Persebaya’,” kata Seger dalam kanal YouTube Pinggir Lapangan.

Sebagai anak asli Karanggayam, Seger amat paham dengan hal-hal yang berbau Persebaya. Dia tumbuh sebagai penggemar Bajul Ijo sejak era 1970-an.

Saat itu, nama-nama seperti Djoko Malis, Rusdy Bahalwan, hingga Soebodro adalah pahlawan yang membawa Persebaya Surabaya menjuarai Perserikatan 1978.

“Sebelum menjadi pemain, saya pernah memanjat pintu stadion supaya bisa menonton Persebaya. Kadang sembunyi di selokan. Itu eranya Djoko Malis,” imbuh pria asli Surabaya tersebut.

Perjalanan Bersama Persebaya

Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam No. 1, Surabaya. (Bola.com/Aditya Wany)
Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam No. 1, Surabaya. (Bola.com/Aditya Wany)

Seger Sutrisno mengawali kariernya dengan bergabung klub internal Persebaya Surabaya, Indonesia Muda (IM), pada 1980-an. Selama ini, klub tersebut cukup terkenal menyumbang pemain ke skuat Bajul Ijo senior. Seger telaten berlatih di Lapangan Pacar Keling.

Meski bergabung klub internal Persebaya, Seger rupanya tetap kesulitan untuk mendapat kesempatan bermain. Bersama Indonesia Muda, dia harus bersaing dengan Budi Johanis yang merupakan saingannya untuk posisi gelandang serang.

“Saya selalu menjadi cadangan, tidak pernah main. Sampai suatu ketika, Budi Johanis dipanggil Timnas Indonesia. Saya diberi kesempatan sampai bisa ikut seleksi untuk bergabung tim senior Persebaya,” tuturnya.

Seleksi yang digelar pada 1986 itu pun dilakoni Seger dengan tidak mudah. Sebab, ada sekitar 200 peserta yang juga berebut tempat. Usahanya untuk terus berlatih demi mencapai mimpi tidak mengkhianati hasil.

“Seleksinya itu dipimpin oleh Pak Rusdi (Bahalwan), Pak Soebodro, dan Pak Totok (Risantono). Saya berhasil lolos dan masuk tim di musim 1986-1987. Saya jadi pemain yang paling muda. Saat itu, ada Putu Yasa, Subangkit, Maura Hally, Muharom Rusdiana, dan Mustaqim di situ,” ujarnya.

Sebagai pemain muda, tidak banyak kesempatan bermain yang didapatkannya. Seger hanya beberapa kali tampil. Persebaya sendiri akhirnya gagal meraih juara setelah kalah 0-1 dari sang rival, PSIS Semarang, di partai puncak.

Namun, musim ini membawa berkah untuk para pemain Persebaya. Mereka mendapatkan hadiah berupa menjadi karyawan di PDAM Surabaya. Seger bahkan masih berstatus sebagai karyawan PDAM Surabaya hingga sekarang.

Bawa Persebaya Juara dan Menjadi Pelatih

Pelatih Persebaya U-17, Seger Sutrisno. (Bola.com/Aditya Wany)
Pelatih Persebaya U-17, Seger Sutrisno. (Bola.com/Aditya Wany)

Semusim berselang, Persebaya Surabaya mencatatkan prestasi yang telah diincar selama bertahun-tahun. Seger menjadi bagian integral Bajul Ijo yang sukses merengkuh trofi Perserikatan 1987-1988 setelah menumbangkan Persija Jakarta dengan skor 3-2.

“Sebelum gabung Persebaya, saya sebenarnya juga sudah sering ikut main sepak bola di PDAM. Alhamdulillah, saya jadi punya pekerjaan tetap di PDAM. Saat itu, kami justru semakin termotivasi, makanya musim berikutnya juara,” ungkapnya.

Seger membela Persebaya dengan jersey warna identik hijau hingga 1996. Saat Ligina 1996/1997, dia kemudian bergabung Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS). Sayang, saat itu ASGS menempati posisi ke-10. Klub itu kini sudah tidak muncul di kancah nasional.

Hanya semusim di ASGS, Seger kemudian memutuskan pensiun sebagai pemain. Dia memutuskan fokus pada pekerjaan sebagai karyawan PDAM. Namun, rasa kangen terhadap sepak bola muncul sehingga membuatnya kembali ke lapangan.

Statusnya, kali ini sebagai pelatih. Seger beberapa kali melatih klub kelompok usia di berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk klub internal Persebaya. Sampai puncaknya menghampirinya pada 2017, saat Persebaya diakui kembali sebagai anggota PSSI.

Pada musim 2017, pula dia membawa Indonesia Muda menjuarai Kompetisi Internal Persebaya. Seger kemudian mendapat mandat melatih Persebaya U-17. Dia makin termotivasi untuk mempersembahkan gelar juara Piala Suratin edisi 2017.

Dua tahun berselang, upaya Seger menuai hasil. Persebaya U-17 menjuarai Piala Suratin 2019 yang sekaligus mengobati dahaga haus gelar tim junior Persebaya. Sebab, itu merupakan gelar pertama mereka setelah terakhir menjuarai Piala Suratin 2002.

Video