Nostalgia Zaman Liga Indonesia dan ISL: Siapa yang Penasaran di Mana Cristian Carrasco Simpan Topeng Spiderman saat Bertanding?

Bola.com, Jakarta - Cristian Carrasco dikenal sebagai penyerang asing tajam di Liga Indonesia. Ia pun sudah memperkuat klub besar Tanah Air di sepanjang kariernya. Sebut saja Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Persipura Jayapura.

Ada satu hal lagi yang menjadi ciri khas Cristian Carrasco, yakni kebiasaannya mengenakan topeng pahlawan super, Spiderman setelah mencetak gol.

Kepada kanal Youtube Sport77 Official, Carrasco mengaku mulai memakai topeng itu pada tahun 2004. Saat itu, ia tengah memperkuat Persebaya Surabaya.

"Saya mulai pakai topeng itu saat di Persebaya," ungkapnya.

Kemudian timbul pertanyaan. Sebenarnya di mana pemain asal Chile itu menyimpan topeng itu di sepanjang pertandingan?

Banyak yang menduga Carrasco menyimpan topeng itu di celana dalamnya. Namun, ia membantah hal itu.

"Itu rahasia sampai sekarang dong, tapi bukan di situ kolor. Kalau disimpan disitu kan bau," katanya sembari tertawa lebar.

"Ada tempat spesial buat simpan topeng itu," sambung Cristian Carrasco.

Ingin Terus Diingat

(c) http://persita-fc.com/
(c) http://persita-fc.com/

Cristian Carrasco pun menjelaskan awal mula mengapa ia memiliki ide melakukan selebrasi gol dengan menggunakan topeng Spiderman. Carrasco merasa selebrasi yang saat itu dilakukan pesepak bola di Indonesia membosankan.

"Dari dulu tidak ada pemain yang selebrasi seperti itu dan kalau saya lihat, pemain selebrasi biasa saja," katanya.

Carrasco tidak mau menjadi pemain yang biasa saja. Ia harus menemukan sesuatu yang membuatnya bisa dikenang dalam waktu yang lama.

"Saya cari ciri khas, supaya orang bisa ingat saya dan itu berhasil sampai sekarang," jelasnya.

Dikirim Langsung dari Chile

Topeng Spiderman milik Cristian Carrasco cukup spesial. Sebab, topeng-topeng itu langsung dikirim dari negaranya, Chile.

"Saya bawa dari Chile, dikirim orang tua saya. Soalnya di sini itu tidak ada," ungkapnya.

Menurut Carrasco saat masih aktif bermain, setiap musim ia bisa meminta untuk dikirim lebih dari 300 topeng Spiderman. Topeng itu tidak hanya ia kenakan ketika mencetak gol. Tapi juga banyak yang dibagikan kepada suporter.

"Sampai sekarang topeng itu masih ada di rumah," tandas Carrasco.

Jejak Karier

Demonstran anti-pemerintah di Venezuela mengenakan topeng Spiderman saat menggelar aksi di Caracas, Venezuela, Sabtu (26/5). Venezuela tengah menghadapi demonstrasi anti-pemerintah yang dilatar belakangi krisis ekonomi di negara ini. (AP Photo)
Demonstran anti-pemerintah di Venezuela mengenakan topeng Spiderman saat menggelar aksi di Caracas, Venezuela, Sabtu (26/5). Venezuela tengah menghadapi demonstrasi anti-pemerintah yang dilatar belakangi krisis ekonomi di negara ini. (AP Photo)

Lalu, bagaimana awal mula karier Carrasco di Indonesia?

Carrasco pertama kali datang ke Indonesia pada akhir tahun 2001. Saat itu, ia masih berusia 21 tahun sudah bermain profesional di Chile. Namun, ia punya keinginan bermain di luar negeri.

Kebetulan saat itu ada Leon Sanchez yang lebih dulu merasakan sepak bola Indonesia. Leon tidak terlalu berhasil dan kemudian beralih pekerjaan menjadi agen pemain. Leon Sanchez adalah sosok yang membawa Carrasco ke Indonesia.

"Ada satu teman saya, Leon Sanchez pernah main di Indonesia tapi dia gagal. Saya jadi ingin ikuti dia ke Indonesia. Saat itu saya tidak tahu Indonesia, kan ujung sama ujung dengan Chile," ungkapnya.

Tolak Deltras

Deltras Sidoarjo menjadi tujuan pertama Carrasco saat itu di Indonesia. Ia menjalani seleksi di klub berjuluk The Lobsters itu dan sudah mendapatkan tawaran kontrak.

Namun, Carrasco menolak tawaran kontrak dari Deltras Sidoarjo. Ia tidak menjelaskan secara spesifik mengapa ia pada akhirnya menolak tawaran kontrak itu.

Yang pasti ia mendapatkan saran dari sesama pemain Chile yang sudah lebih lama bermain untuk Deltras. Pemain yang dimaksud adalah John Rubio.

"Awalnya ke Deltras Sidoarjo buat seleksi. Saya waktu itu diterima tapi tidak tanda tangan kontrak," kata Carrasco.

"Karena ada teman saya waktu itu John Rubio dia bilang saya tidak akan main di sana, ada banyak faktor yang tidak bisa saya kasih tahu," sambungnya.

Jalan Terbuka di Maros, Gabung Persebaya

Liga 1 - Ilustrasi Logo Persebaya Surabaya BRI Liga 1 (Bola.com/Adreanus Titus)
Liga 1 - Ilustrasi Logo Persebaya Surabaya BRI Liga 1 (Bola.com/Adreanus Titus)

Cristian Carrasco kemudian mencoba peruntungan di Persim Maros. Meski saat itu Maros bermain di Divisi 1 atau Liga level kedua, Carrasco tidak merasa ada masalah.

Yang paling penting ia bisa mendapatkan menit bermain yang rutin di klub tersebut. Perlahan, Carrasco pun mampu menunjukan kualitas sebenarnya yang ia miliki.

"Saya tolak Deltras itu 2002, terus sama ke Persim Maros. Saya tidak masalah bermain di Divisi 1 saat itu, yang penting saya main. Tahun pertama di Maros saya cetak 15 gol. Musim kedua saya mencetak 25 gol," ujar Carrasco bangga.

Penampilan apik itu membuat Persebaya Surabaya kepincut. Apalagi saat itu, Carrasco bersama Persim Maros juga mendapatkan kesempatan bermain melawan Persebaya yang saat itu diasuh oleh Jacksen Tiago pada tahun 2003.

"Pada tahun kedua kami ketemu Persebaya, waktu itu Jacksen pelatihnya. Dia bisa lihat saya langsung waktu itu, dan musim depannya saya dipanggil ke Persebaya," tandas Carrasco.