Novelis Sarah Kapit Buktikan Autisme Bisa Berkomunikasi Lebih Baik Lewat Tulisan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Meski autisme kerap dianggap tidak peduli orang lain, namun novelis Sarah Kapit membantahnya. Ia yang juga autisme ternyata memiliki pandangan sendiri yang membuat orang lain membuka mata.

“Seringkali orang autisme distereotipkan tidak peduli pada orang lain, dan itu tidak benar,” kata Kapit.

Seperti dilansir Kveller, Sarah Kapit menceritakan kondisinya dalam bentuk novel berjudul Get a Grip, Vivy Cohen!. Dalam novel tersebut, Kapit menceritakan dirinya sebagai tokoh fiksi utama bernama Vivy Cohen, seorang remaja yang memiliki autisme yang sangat mencintai bisbol.

Kisah Vivy ini dibuat sangat mirip dengan kehidupan nyata, seperti ibu Vivy yang tidak percaya putrinya bisa bermain bisbol. Inilah yang membuat anak-anak cenderung merahasiakan banyak hal dari orang tuanya. Dan disabilitas menambah ketidakpercayaan itu. "Ini adalah dunia di mana orangtua sering kali menjadi pihak yang mengadvokasi kebutuhan anak-anak mereka," kata Kapit.

Di saat yang sama, orangtua ingin memastikan bahwa anak-anak mereka aman dan terus berkembang ( ini masih dapat dimaklumi). Namun bagi penyandang disabilitas, tingkat kesulitannya benar-benar besar.

"Saya sangat percaya bahwa orangtua, termasuk orangtua dari anak-anak disabilitas perlu membantu anak-anak mereka secara bertahap menjadi lebih mandiri. Di AS, banyak sekolah meminta anak-anak menjadi lebih terlibat dalam proses IEP (Individual Education Plan) seiring bertambahnya usia dan menurut saya itu bagus. Maka dari itu saya membuat karakter Vivy yang belajar bagaimana membela dirinya sendiri."

"Saya berharap anak-anak dapat membaca (tokoh) Vivy dan merasa diberdayakan. Tidak apa-apa untuk memiliki impian Anda sendiri dan mengejarnya. Vivy akhirnya belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang tuanya dengan cara yang sesuai untuknya, dan saya harap itu menginspirasi," jelas Kapit.

Buku favorit sejak kecil

Kapit mengungkapkan ada beberapa buku yang merepresentasikan masa kecilnya, seperti Meg Murray dalam A Wrinkle in Time, Harriet of Harriet the Spy, dan Tobias of Animorphs.

"Seringkali kita akhirnya menemukan diri kita dalam karakter yang tidak digambarkan sebagai autisme, sedangkan karakter autisme resmi adalah stereotip," katanya.

"Saya rasa banyak penulis non-autis yang salah paham. Karakternya tidak memiliki individualitas, biasanya laki-laki dan terobsesi dengan sains. Mereka tampaknya tidak mengalami emosi secara intens sama sekali."

Pada saat yang sama, pengalaman autisme tidak sepenuhnya terwakili. Banyak penderita autisme yang mengalami dispraxia, misalnya (masalah dengan kemampuan motorik). Saya jarang melihatnya terwakili. Banyak orang dengan autisme yang kesulitan berbicara, tapi juga jarang melihatnya. "Saya rasa banyak penulis yang mempelajari tentang orang autime dengan membaca penelitian ilmiah mendapatkan gambaran yang tidak lengkap."

Kapit berharap bukunya dapat menghilangkan fakta bahwa anak-anak dengan autisme baik-baik saja apa adanya, bahkan jika dunia mencoba memberi tahu bahwa mereka tidak baik-baik saja.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini: