NPC Indonesia ungkap proses pencarian bibit atlet disabilitas

·Bacaan 2 menit

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia Rima Ferdianto mengungkapkan proses pencarian bibit atlet disabilitas yang berbeda dengan atlet non-disabilitas.

Menurut Rima, pencarian atlet non-disabilitas berbeda dengan atlet disabilitas yang memiliki pola pembinaan berjenjang dan jangka panjang. Mulai dari proses pencarian hingga pembinaan, atlet yang memiliki keterbatasan harus melalui sejumlah tahapan.

Pertama adalah tahap pengenalan olahraga disabilitas. Dalam fase ini, sambung Rima, NPC, baik pusat maupun daerah, harus terlebih dahulu memahami kondisi dari atlet tersebut. Sebab, ada dua jenis atau golongan penyandang disabilitas, yakni sejak lahir dan seseorang yang memiliki keterbatasan karena mengalami insiden tertentu, seperti kecelakaan atau sebagainya.

"Pengenalannya berbeda, dan ini adalah tahap paling sulit dalam mencari bibit atlet potensial. Untuk pengenalan kepada atlet penyandang disabilitas sejak lahir itu jauh lebih mudah karena saat ini banyak figur yang bisa dijadikan contoh, seperti para atlet yang tampil di Paralimpiade," kata Rima kepada ANTARA, Jumat.

Sedangkan untuk golongan kedua, ia mengungkapkan tidak bisa begitu saja mengajak atau menawarkan seseorang untuk menjadi atlet. Seorang pelatih atau pengurus harus lebih dulu memahami kondisi berdasarkan fase-fase yang dialami dari calon atlet tersebut.

Baca juga: NPC Indonesia: Perhatian pemerintah jadi kunci sukses di Paralimpiade
Baca juga: NPC Indonesia apresiasi perhatian Jokowi terhadap atlet disabilitas

Ia menjelaskan fase pertama dan kedua itu adalah marah dan denial atau tidak bisa menerima keadaan. Seseorang yang mengalami disabilitas karena kecelakaan atau trauma akan mengalami dua fase tersebut.

"Pada fase ini, kita tidak bisa langsung mengajak mereka untuk menjadi atlet. Karena mereka butuh waktu untuk bisa menerima keadaan. Bisa enam bulan, satu bahkan bisa lima tahun. Jadi pada tahap ini, kita hanya bisa memberikan dukungan," ujar Rima.

Setelah dua fase tersebut terlewati, seseorang akan memasuki tahapan selanjutnya, yakni menerima keadaan atau acceptance. Pada fase ini, NPC, baik di pusat maupun daerah, baru bisa melakukan pendekatan dengan memperkenalkan olahraga disabilitas.

"Banyak hal yang telah kami melewati hingga akhirnya kami bisa memahami fase-fase yang mereka hadapi. NPC Indonesia pun selalu memberikan pelatihan-pelatihan kepada pelatih atau pengurus di daerah agar bisa memahaminya," tutur Rima.

Setelah melakukan pengenalan olahraga disabilitas, ia menambahkan hal yang tak kalah penting dan harus dilakukan adalah memberikan fasilitas yang ramah untuk seorang penyandang disabilitas.

"Yang penting juga adalah memberikan fasilitas yang membuat mereka nyaman. Dengan begitu, mereka akan termotivasi sehingga dengan sendirinya mereka akan berlatih dengan keras," ungkap Rima.

Baca juga: NPC Indonesia dorong pemda perhatikan pembinaan atlet disabilitas
Baca juga: Kontingen Indonesia lampaui semua target di Paralimpiade Tokyo 2020

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel