NSI Nawacita Sosial Inisiatif: Bedah Buku Supremasi Kapital

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 5 menit

VIVA - NSI Nawacita Sosial Inisiatif kali ini membedah buku yang ditulis oleh Ir. Goenardjoadi Goenawan Supremasi Kapital 9.0. Pepatah mengatakan, rezeki itu datang dari Tuhan. Nah, masalahnya, kita sering blunder atau buntu menunggu datangnya.

"Alhasil kita salah mengartikan pepatah kuno tersebut. Mekanisme datangnya rezeki dapat diuraikan sebagai berikut: Falsafah dasar dari rezeki adalah "Allahu Akbar" Allah Maha Besar. Artinya, rezeki = kuasa. Sumber dari segala kuasa adalah kuasa Allah." kata Ketua ekonomi NSI Nawacita Sosial Inisiatif Ir. Goenardjoadi Goenawan.

"Nah, berikutnya dari tatanan Ilahi (ketuhanan) kita turunin kepada tatanan mikro kecil. Bisa dikatakan rezeki = kuasa, oleh karena itu tidak benar bila ada pendapat, biarlah rezeki besar dan kecil, asalkan kita bisa melihat perbedaan ke bawah." Imbuh Ketua Bidang ekonomi NSI Nawacita Sosial Inisiatif.

Tidak bisa begitu, maksudnya pasrah itu bukan adu nelangsa, adu sengsara. Rezeki = kuasa, pada saat kuasa digondol kelompok lain, hidupnya kita terjajah. Betul?

Jadiya harus paham penjajahnya siapa, di mana, bagaimana?

Kuasa zaman old di tangan Tuhan, namun, Anda perhatikan, sekarang kuasa sebagai uang, digelontorkan untuk kelompok atas.

Dengan demikian ada sumber daya kapital yang tiada habisnya di kalangan atas. Sedangkan akhirnya kelompok bawah terpaksa menjual tanahnya, karena mengikuti naiknya biaya hidup.

Bukankah mereka membayar bunga bank?

Tidak.

Ada 20 negara-negara maju menetapkan bunga nol persen, di Indonesia sudah turun mencapai 3.5% namun di Singapura, Inggris, dll bunga bank nol persen. Artinya sumber daya kapital terus digelontorkan ke pemilik jaminan.

#Supremasi_kapital 10.0

Sebelumnya sudah diuraikan tentang rezeki adalah kuasa. Artinya kita mendapatkan rezeki dengan mengakses kuasa.

Rezeki = kuasa.

Beberapa kesalahpahaman kita dalam menjemput rezeki, di antaranya, kita terjerat oleh norma-norma sehingga pola pikir kita eror, keliru. Misalnya, negara-negara musim dingin kaya, sedangkan negara-negara tropis miskin. Keliru.

Ini sama dengan stigma orang suku tertentu pintar dagang. Keliru. Soal kenapa negara-negara musim dingin itu kata, tidak tergantung musim. Namun mereka memiliki kemampuan untuk membuat sumber daya tak terbatas.

Buku Supremasi Kapital
Buku Supremasi Kapital

Buku Supremasi Kapital

Negara-negara maju menjajah koloni negara-negara Afrika, menyedot sumber daya alam, sampai sekarang. Jadi negara-negara kapitalis yang kaya, bukan berarti mereka terbatas hidup di musim dingin.

Singapura, Dubai, Saudi Arabia, misalnya mereka negara-negara kaya. Dan bukan di daerah-daerah musim dingin.

Rezeki = kuasa

Oleh karena itu, berbentuk interaksi relationship. Di sini kadang kita merasa sedih. Sering sikap kita dalam interaksi bersifat low trust. Kita interaksi ramah, tapi dangkal.

Interaksi rezeki = kuasa adalah relationship yang terikat, dibayarkan dengan kejujuran dan loyalitas. Nah, untuk mengalami hubungan jujur dan setia itu dibayarkan dengan rasa malu.

Misalnya, Anda jujur belum bayar minuman dari Indomaret, bilamana Anda ingin jujur, tentu saja malu.

Rezeki = kuasa, artinya hubungan interaksi relationship dengan orang lain kita bayar dengan Ikhlas. Nah, kebanyakan kita merasakan hubungan nego, kita mengajukan syarat.

Misalnya, pada saat kita interaksi, kita tentu "rugi". Namun, bilamana hubungan baik tersebut mendapat "kuasa", tentu anda tidak akan lagi merasa "rugi".

Hubungan interaksi rezeki = kuasa bukan hubungan dengan sebanyak banyak nya orang , apalagi bila anda berganti nomor, namun hubungan terikat dengan dasar "Rahman" kemurahan hati.

Suku cina suka berlatih kung-fu untuk meningkatkan kemampuan dan kekuatan. Namun menurut saya, rezeki = power, kekuatan kita tidak seberapa, namun dengan menggerakkan orang lain kita mencapai "butterfly efek". Satu ekor kupu-kupu bergerak terbang, menggerakkan ribuan lainnya. (Penulis Ir. Goenardjoadi Goenawan)

#Supremasi_kapital 10.0

Sebelumnya sudah diuraikan tentang rezeki adalah kuasa. Artinya kita mendapatkan rezeki dengan mengakses kuasa.

Rezeki = kuasa.

Beberapa kesalahpahaman kita dalam Menjemput rezeki, diantaranya, kita terjerat oleh norma norma sehingga pola pikir kita eror, keliru. Misalnya, negara-negara musim dingin kaya, sedangkan negara-negara tropis miskin. Keliru.

Ini sama dengan stigma orang suku tertentu pintar dagang. Keliru. Soal kenapa negara-negara musim dingin itu kata, tidak tergantung musim. Namun mereka memiliki kemampuan untuk membuat sumber daya tak terbatas.

Negara-negara maju menjajah koloni negara-negara Africa, menyedot sumber daya alam, sampai sekarang. Jadi negara-negara kapitalis yang kaya, bukan berarti mereka terbatas hidup di musim dingin.

Singapore, Dubai, Saudi Arabia, misalnya mereka negara-negara kaya. Dan bukan di daerah-daerah musim dingin.

Juga ada pepatah, "rezeki datang secara ghoib," bukan begitu. Sebab hal yang demikian tidak bisa dipastikan.

Terakhir, rezeki itu datang karena faktor kuasa, oleh karena itu, tidak bisa langsung diterapkan dengan rasa kasihan, atau iba. Faktor iba bukan disini. Juga bukan untuk bargaining power. Anda tidak bisa menggunakan ilmu sales. Tidak bisa. Disini kadang kita merasa sedih. Banyak sekali orang menerapkan rasa "solidaritas". Tidak bisa begitu. Itu salah paham.

Rezeki = kuasa

Oleh karena itu, berbentuk interaksi relationship. Disini kadang kita merasa sedih. Sering sikap kita dalam interaksi bersifat low trust. Kita interaksi ramah, tapi dangkal. Uang bagi kelompok bawah dianggap untuk memenuhi kebutuhan, namun bagi kelompok atas, adalah alat kekuasaan.

Interaksi rezeki = kuasa adalah relationship yang terikat, dibayarkan dengan kejujuran dan loyalitas. Nah, Untuk mengalami hubungan jujur dan setia itu dibayarkan dengan rasa "malu."

Misalnya, anda jujur belum bayar minuman dari indomaret, bilamana anda ingin jujur, tentu saja malu.

Rezeki = kuasa, artinya hubungan interaksi relationship dengan orang lain kita bayar dengan Ikhlas. Nah, kebanyakan kita merasakan Hubungan "nego," kita mengajukan syarat.

Misalnya, pada saat kita interaksi, kita tentu "rugi". Namun, bilamana hubungan baik tersebut mendapat "kuasa", tentu anda tidak akan lagi merasa "rugi".

Hubungan interaksi rezeki = kuasa bukan hubungan dengan sebanyak banyak nya orang , apalagi bila anda berganti nomor, namun hubungan terikat dengan dasar "Rahman" kemurahan hati.

Suku cina suka berlatih kung-fu untuk meningkatkan kemampuan dan kekuatan. Namun menurut saya, rezeki = power, kekuatan kita tidak seberapa, namun dengan menggerakkan orang lain kita mencapai "butterfly efek". Satu ekor kupu-kupu bergerak terbang, menggerakkan ribuan lainnya. (Penulis: Ir. Goenardjoadi Goenawan)