NSI Nawacita Sosial Inisiatif: Rezeki dan Takdir di Tangan Tuhan

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 2 menit

VIVA - Nah, bentar dulu. Kenapa zaman old ada pepatah demikian? Ceritanya, zaman old abad ke-8 memang dunia perdagangan itu fair, artinya zero sum game.

Anda dagang kurma, dijual, dibelikan kambing. Kadang dagang Untung, kadang rugi. Mekanisme tangan Tuhan melalui satu Pintu : R I S I K O. Orang kaya bisa jatuh miskin, orang misqueen bisa jadi horang kaya.

Nah (lagi), zaman tersebut semuanya ditukar dengan emas dinar.

Sejak itu sekelompok pedagang mulai meminjamkan uang dengan bunga. Akhirnya uang itu berkembang pesat. Anda butuh modal cukup datang ke mereka, abracadabra Anda punya modal. Berapa modal yang cukup?

Sampai sekarang, konglomerat dengan kredit Rp70 miliar dapat tambahan kredit top up Rp1miliar per bulan. Bayangkan yang kredit Rp70 triliun dapat top up satu triliun per bulan. Sampai kembung.

Makdarit (maka dari itu), mereka menutup pintu tangan Tuhan, Pintu RISIKO tertutup. Mereka mendapatkan privilege kelebihan dalam modal.

Nah (lagi lagi) sejak itu, rezeki ada di tangan bank. Hanya horang kaya memiliki agunan yang bisa mendapatkan kredit.

Ada 3 kategori nasabah kredit bank
1. Consumer, KTA, KK
2. Commercial bisa 1-2x agunan
3. Corporate, Bebas agunan

Semakin Anda misqueen, Anda dikenakan syarat agunan, dan bunga 10x lipat lebih tinggi

Bagaimana mereka menggondol kekuasaan dengan supremasi kapital?

* mereka mengecoh dengan sistem moneter, seolah-olah Anda memiliki uang tunai, nanun itu nilainya memiskinkan Anda. Mereka memproduksi uang kredit secara terus menerus
* mengecoh dengan strata level jenjang kepangkatan. Ada 18 jenjang kepangkatan dan manajemen dalam hidup Anda. Seolah-olah Anda mendapatkan kehormatan. Tapi akhirnya bisa berhenti
* mengecoh dengan peraturan. Anda harus memiliki agunan SIUP, NPWP, BPOM, IDI, dll.
* mengecoh dengan pendapat umum. Seolah-olah Anda kaya dengan gaya hidup dan belanja. Sementara mereka menguasai produksi

Hal ini terus tidak disadari bahwa kita ditindas. Makanya bisa terus berlangsung 500 tahun lamanya. Bagaimana caranya Anda bisa lolos dari deception "empat pengecohan" tersebut, adalah kuncinya Anda melawan kapitalis.

Sekarang, hanya waktu (usia) yang pasti di tangan Tuhan. (Penulis: Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM., Ketua Bidang Ekonomi NSI Nawacita Sosial Inisiatif)