NU Tak Persoalkan Densus 88 Geledah Pesantren di Sleman

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Detasemen Khusus 88 Antiteror 88 Markas Besar Kepolisian RI menggeledah Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim di Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Merespons itu, Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Syafruddin Syarif, tak mempersoalkan jika pesantren digeledah. Namun yang perlu dicatat, kata dia, tak semua pesantren di negeri ini berafiliasi dengan NU.

Syafruddin mengatakan, kini banyak berdiri pesantren yang bercorak salafi dan mengembangkan paham Wahabi. Di Jerman, kata dia memberikan contoh, paham Wahabi menyebabkan meningkatnya ekstremisme.

Syafruddin lantas menyinggung pesantren yang didirikan oleh Abu Bakar Ba’asyir di Ngruki, Solo, Jawa Tengah, yang menurutnya dahulu terang-terangan menyebut pemerintah dengan tagut (penyembah selain Allah).

“Sampai mengeluarkan buku bahwa pemerintah Indonesia adalah tagut, polisinya tagut. Tentu ajaran ini menyebabkan santrinya menjadi radikal, tidak ada toleransi sama sekali," ujarnya kepada wartawan pada Minggu, 4 April 2021.

Secara pribadi, Syafruddin tak mempersoalkan ketika aparat Densus 88 menggeledah sebuah pesantren jika memang diduga kuat ada oknum di pesantren itu bertalian dengan kelompok radikal-ekstrem.

"Kalau memang Densus 88 melacak ada salah satu pesantren yang kemungkinan di situ ada ajarannya yang menyebabkan terorisme tumbuh subur, maka itu menjadi satu hal yang memang harus dilakukan Densus 88 untuk menggeledah, termasuk ke pesantren," ujarnya.

Sebuah pesantren bernama Ibnu Qoyyil di Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, digeledah oleh Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 2 April.

Pengasuh sekaligus anak pendiri pesantren itu, M. Najib Hisyam, membenarkan memang ada penggeledahan di area pesantrennya. Namun, Najib tak bisa menjelaskan secara detail karena berada di luar saat penggeledahan.

Najib menyebut bahwa memang ada ruangan yang digeledah, di antaranya ruangan direktur dan rumah di depan kompleks Pesantren Ibnu Qoyyil yang merupakan rumah dinas direktur. Sang direktur ialah adik perempuannya.

Saat penggeledahan, katanya, adiknya ada dan turut menyaksikan. Namun sang suami, berinisial RAS, tak tampak saat penggeledahan dan tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Najib menjelaskan, RAS sebenarnya warga Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Setelah menikah dengan adik Najib, RAS mengajar di Pesantren Ibnu Qoyyil dan aktif menjadi pembicara dalam forum pengajian.