NY ingin tambahan ventilator namun pasokan rendah

Upaya New York untuk menemukan mesin pernapasan yang cukup untuk merawat pasien virus corona yang berkembang pesat menggambarkan masalah yang meresahkan rumah sakit dan pemerintah di seluruh dunia.

Dalam briefing yang disiarkan secara nasional minggu ini, Gubernur New York Andrew Cuomo telah membuat permohonan putus asa ke negara-negara bagian lain dan pemerintah federal untuk mengirim mesin bantu pernafasan yang akan dikembalikan negara bagian itu saat kebutuhan berkurang.

Permohonan Cuomo terbukti merupakan permintaan yang sulit. Pertama, perangkat itu sudah dalam pasokan yang kurang secara nasional. Dan para profesional medis dan pejabat di negara-negara bagian lain juga memperkirakan wilayahnya akan dibanjiri dengan kasus corona sendiri dalam waktu dekat. Alat itu juga tidak mudah untuk diproduksi dengan cepat, meskipun ada upaya yang sedang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar.

Mesin yang juga dikenal sebagai ventilator itu diperlukan untuk pasien yang sakit parah, dan ketersediaannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diproyeksikan ketika virus menyebar.

Yang memperparah masalah adalah kenyataan bahwa dokter mengatakan pasien corona sering membutuhkan ventilator selama berminggu-minggu, dan bahkan mungkin lebih lama - yang memperlambat perpindahan dari satu pasien ke pasien berikutnya. Ini masalah yang sama yang dihadapi China dan Italia tanpa solusi yang mudah.

Cuomo mengatakan minggu ini negaranya memiliki 4.000 ventilator dan telah membeli 7.000 lainnya. Pemerintah AS telah berjanji untuk mengirim 4.400 ventilator lagi kepada New York. Itu masih jauh dari kebutuhan 30.000 ventilator yang menurut Cuomo diperlukan jika krisis mencapai titik puncaknya di New York, yang telah muncul sebagai zona merah virus.

Dalam sebuah wawancara Kamis malam dengan Sean Hannity dari Fox News Channel, Presiden Donald Trump membantah perkiraan Cuomo.

"Saya tidak percaya Anda membutuhkan 40.000 atau 30.000 ventilator," kata Trump.

Sementara itu, New York mengubah beberapa ribu mesin anestesi yang mereka miliki menjadi ventilator sementara dan menambahkan satu set tabung ke beberapa ventilator sehingga masing-masing dapat digunakan untuk dua pasien.

"Ini tidak ideal, tapi kami percaya itu bisa diterapkan," kata Cuomo.

American Society of Anesthesiologists tidak setuju, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa menggunakan satu mesin pernapasan untuk dua orang berbahaya dan dapat mencegah kedua pasien mendapat manfaat karena "alat itu perlu dirancang secara individual dan dipantau terus menerus." Kelompok itu mendukung penggunaan mesin anestesi di New York.

Saat ini, rumah sakit A.S. memiliki sekitar 65.000 ventilator yang sepenuhnya mampu merawat pasien corona parah. Tetapi mereka bisa mengupayakan 170.000, termasuk beberapa versi sederhana yang tidak akan bekerja dalam semua kasus, kata Dr. Lewis Rubinson, kepala petugas medis di Morristown Medical Center di New Jersey dan penulis utama artikel jurnal medis 2010 tentang masalah tersebut. .

Dalam presentasi bulan Februari untuk para profesional medis lainnya, Dr. James Lawler, seorang profesor rekanan dan spesialis penyakit menular di Universitas Nebraska Medical Center, memperkirakan bahwa 960.000 orang di AS perlu menggunakan ventilator.

Rubinson mengatakan bahwa tidak mungkin AS akan membutuhkan banyak ventilator pada saat yang sama, memperkirakan negara itu akan membutuhkan lebih dari 300.000 cukup cepat. Jika jarak sosial berfungsi, orang akan tertular virus pada waktu yang berbeda, memungkinkan rumah sakit dapat menggunakan ventilator beberapa kali.

"Ini adalah alasan mengapa semua orang berbicara tentang meratakan kurva," katanya.

Dia memperkirakan ada tujuh atau delapan pembuat ventilator di dunia, dan bersama-sama mereka dapat menghasilkan beberapa ribu per bulan, jauh dari permintaan global.

Dalam kasus yang paling parah, virus corona merusak jaringan sehat di paru-paru, sehingga menyulitkan mereka untuk mengirimkan oksigen ke darah. Pneumonia dapat berkembang, bersama dengan kondisi yang lebih parah dan berpotensi mematikan yang disebut sindrom gangguan pernapasan akut, yang dapat merusak organ lain.

Ventilator memberi pasokan oksigen ke paru-paru pasien dengan masalah pernapasan parah melalui tabung yang dimasukkan ke tenggorokan. Mesin-mesin ini juga digunakan secara rutin untuk membantu pasien rumah sakit lainnya bernafas, yaitu mereka yang menjalani operasi saat di bawah pengaruh bius total.

Di China, tempat virus pertama kali muncul, pabrik-pabrik bekerja tanpa henti selama sekitar satu bulan untuk mencoba dan memproduksi ventilator tetapi pada awalnya tertahan oleh kekurangan bahan baku, menurut laporan media China. Mereka menerima bahan-bahan yang dibutuhkan melalui sumbangan, penggalangan dana dan amal. Beberapa ventilator dibeli di luar negeri. Akhirnya pada 4 Maret, setelah setidaknya 15.000 dikirim ke provinsi Hubei, tempat wabah terkonsentrasi, pejabat pemerintah menyatakan ada cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar provinsi.

Beberapa perusahaan di seluruh dunia berusaha membuat mesin pernapasan, tetapi itu membutuhkan waktu.

Di Dyson, perusahaan Inggris yang terkenal membuat vakuum, tim insinyur telah mengerjakan desain selama 10 hari terakhir sejak menerima permintaan bantuan dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Miliarder James Dyson mengatakan kepada stafnya bahwa perangkat akan menggunakan teknologi yang digunakan dalam mesin penyaring udara perusahaan itu dan dioperasikan oleh motor digital. Inggrsi ingin meningkatkan ketersediaan ventilator dari 8.000 menjadi 30 ribu.

Produsen mobil A.S. General Motors dan Ford, bekerja sama dengan pembuat ventilator, telah mempekerjakan ratusan orang hampir sepanjang waktu untuk berusaha membuat lebih banyak perangkat yang menyelamatkan jiwa itu. GM berencana untuk mulai membangun versi uji pada awal April, hingga akhirnya menghasilkan 20.000 per bulan.

CEO Ford Jim Hackett mengatakan minggu ini bahwa pada pertengahan Mei, Ford akan membuat ventilator dengan GE Health Care. Dia mengatakan semua perusahaan yang membuat ventilator di AS dan Eropa dapat memproduksi pada tingkat 900.000 per tahun pada Juni.

Para ahli mengatakan tidak peduli berapa banyak yang mereka hasilkan, jumlahnya mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan, dan mungkin tidak datang tepat waktu untuk membantu New York atau daerah lain yang sekarang dilanda kasus-kasus virus kritis.

General Motors bersiap untuk membuat ventilator di pabrik elektronik di Kokomo, Indiana, tetapi belum memberikan angka pasti atau tanggal untuk memulai produksi.

Tesla dan CEO SpaceX, Elon Musk mengatakan di Twitter dia berbicara dengan pembuat ventilator Medtronic tentang pembuatan perangkat, tetapi juru bicara perusahaan tidak menjawab pesan yang meminta rincian rencana itu.

Bahkan jika para produsen mobil dan lainnya mulai berproduksi pada bulan Mei atau Juni, setiap ventilator yang mereka buat masih akan menyelamatkan banyak nyawa karena mereka dapat digunakan untuk membantu dua orang atau lebih, kata Dr. Jack Iwashyna, seorang profesor kedokteran internal di University of Michigan.

"Fakta bahwa Anda tidak dapat menyelamatkan semua orang bukan berarti Anda tidak harus menyelamatkan sebagian," katanya.