Nyali Besar Mayor Kopassus Tetap Sopan di Ujung Moncong Senapan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seperti yang dikatakan Jenderal TNI (HOR) Abdullah Mahmud Hendropriyono, bahwa prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tak hanya memiliki ciri baret merah kebanggaan. Tetapi juga, memiliki moral dan mental yang baik. Hal ini dibuktikan oleh seorang Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat, Mayor Inf Yudha Airlangga.

Dalam data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi TNI Angkatan Darat, Yudha saat ini berpangkat Kolonel Infanteri (Inf), menduduki posisi sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Asops Kasdam) VI/Mulawarman.

Yudha adalah seorang anggota satuan elite Kopassus, jebolan Akademi Militer (Akmil) 1997. Saat masih berpangkat Mayor Infanteri, Yudha pernah ikut serta dalam Kontingen Garuda XIII-A Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL).

Menurut catatan lain yang dikutip VIVA Militer dari buku "Kopassus untuk Indonesia”, sebuah momen heroik terjadi di Lebanon sekitar tahun 2006.

Saat itu, Yudha dan pasukannya harus berhadapan dengan prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Kejadian bermula saat Yudha dan pasukannya mengetahui ada seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun, ditahan oleh tentara Israel. Bocah ini ditangkap tentara Israel lantaran kenakalannya melempari pos penjagaan militer Israel.

Mengetahui hal tersebut, Yudha dan pasukannya pun mendatangi pos militer Israel di perbatasan. Yudha mencoba untuk membujuk tentara Israel melepaskan bocah itu. Sebab meskipun melakukan kesalahan, namun sang pelaku adalah bocah di bawah umur.

Dikenal sebagai pasukan perdamaian yang paling disiplin dan humanis, Yudha dan rekan-rekannya sama sekali tidak bersikap keras terhadap tentara Israel. Namun, pria kelahiran Surabaya 26 Juli 1976 ini memilih jalur diplomasi.

Tak mudah bagi Yudha untuk meyakinkan para tentara Israel untuk langsung membebaskan bocah itu. Sejak datang ke pos perbatasan, Yudha dan pasukannya malah disambut dengan todongan senapan-senapan milik prajurit militer Israel.

Dikatakan Yudha, ia mencoba untuk membuka sisi humanis para tentara Israel itu. Meski harus melewati negosiasi selama empat jam, pada akhirnya Yudha dan pasukan TNI di Kontingen Garuda XIII-A, berhasil membebaskan bocah tersebut.

"Kita kembangkan sisi kemanusiaannya, sehingga mereka akhirnya berhasil membebaskan anak itu," ucap Yudha.

Aksi heroik Yudha dan rekan-rekannya dari Kontingen Garuda XIII-A ini jadi bukti bahwa prajurit TNI memiliki sisi kemanusiaan yang sangat tinggi. Menurut Yudha, ia dan pasukannya sudah mendapat arahan perihal sikap yang harus dilakukan dalam menjalankan tugas di daerah konflik.

"Pasukan sudah di-briefing. Jika bertemu dengan warga Lebanon harus disapa, diberi salam, namun tetap siaga. Ada yang memberi salam, ada yang tetap memantau situasi sekitar," kata mantan Komandan Detasemen 81 (Penanggulangan Teror) atau Sat-81 Gultor itu.