Nyali Besar TNI di Depan Tank Israel dan Penembak Jitu Disoroti Dunia

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 2 menit

VIVA – Keberanian para prajurit militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) mencegah terjadi pertempuran antara pasukan Lebanese Armed Force (LAF) dengan Israel Defense Forces (IDF) menjadi sorotan dunia.

Berdasarkan pantauan VIVA Militer, Jumat 12 Maret 2021, nyali besar para prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Indobatt XXIII-O/UNIFIL menjadi topik pembicaraan hangat di kedua negara bertikai, baik dari kalangan militer maupun sipil di Lebanon dan Israel.

Aksi para prajurit TNI yang dipimpin Kolonel Inf Amril Haris Isya Siregar mencegah bentrok senjata di Blue Line Temporary Point (TP) 35 dan 36 Lebanon Selatan mendapat beragam pujian, terutama dari Lebanon.

Berbagai jaringan media dan media sosial dunia menyiarkan informasi peristiwa itu. Begitu juga jaringan media resmi militer kedua negara.

Apalagi, dengan gagah berani para prajurit TNI menggunakan badan mereka sendiri untuk menjadi tembok pembatas antara kedua pasukan yang sudah siap saling gempur.

Perlu diketahui, peristiwa itu terjadi pada 10 Maret 2021 waktu setempat, saat tentara Lebanon sedang melakukan pembangunan jalan baru di TP 35. Pasukan LAF membuat jalan untuk menghindari ranjau darat yang banyak terpasang di sepanjang perbatasan kedua negara.

Namun, Israel tak terima dengan apa yang dilakukan pasukan Lebanon. Negeri Yahudi lalu mengerahkan pasukan IDF ke lokasi. "Sebagai bentuk protes pembuatan jalan baru oleh LAF, Israel mengirim tiga unit tank Merkava beserta beberapa prajurit yang berjalan kaki di samping kanan dan kiri tank dan membuka Iron Gate dekat TP 35 untuk dilalui," kata Komandan Konga Satgas XXIII-O/UNIFIL, Kolonel Inf Amril Haris Isya Siregar.

Situasi kian mencekam setelah Lebanon juga mengerahkan puluhan pasukan bersenjata ke lokasi. "Tak berselang lama datang 20 orang tentara LAF dengan bersenjata lengkap dan menempatkan beberapa penembak jitu di atap sebuah rumah kecil di area TP 35," kata Kolonel Amril.

Walau dalam kondisi yang sangat berbahaya itu, prajurit TNI tak gentar, dengan berbekal atribut biru pasukan perdamaian dunia PBB, mereka merelakan tubuh menjadi blokade hidup untuk memisahkan pasukan kedua negara. Prajurit TNI dengan gagah berani berdiri di antara tank Merkava dan para penembak jitu.

"Saya perintahkan kepada seluruh personel untuk memperpanjang waktu pemasangan blokade serta selalu siaga dan waspada terhadap segala kemungkinan terburuk dan untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan mengingat banyaknya masyarakat sipil yang berdatangan ke lokasi," kata Kolonel Amril.

Baca: Kolonel Awang Jadi Komandan Kapal Perang Perusak Rudal TNI