Nyali Dokter Neraka TNI Tolong Sesama Prajurit Bahayakan Nyawa Sendiri

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sederet fakta membuktikan bahwa Korps Marinir salah satu satuan elite yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut. Sejarah membuktikan peran pasukan Korps Baret Ungu dalam sejumlah pertempuran yang dilewatinya.

Dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku Korps Komando AL dari Tahun ke Tahun, Korps Marinir ternyata punya satuan pelaksana yang, bertugas untuk memberikan pertolongan terhadap sesama prajurit dalam pertempuran.

Satuan tersebut adalah Batalyon Kesehatan (Yonkes) Marinir. Yonkes Marinir terbagi menjadi dua, Yonkes-1 Mar yang berada di bawah Resimen Bantuan Tempur 1/Marinir (Menbanpur-1 Mar), yang bermarkas di Bhumi Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Yonkes-2 Mar bermarkas di Kesatrian Marinir Soetedi Senaputra, Karang Pilang, Surabaya.

Jelas bukan perkara mudah bagi anggota Yonkes Marinir menjalankan tugas, terutama saat pertempuran berlangsung. Sebab biasanya, musuh akan menjadikan prajurit kesehatan dan komunikasi sebagai sasaran tembak.

Namun demikian, prajurit kesehatan Marinir tetap memiliki kemampuan tempur selayaknya prajurit komando. Selain membawa obat-obatan untuk menolong sesama prajurit di medan tempur, prajurit kesehatan juga membawa senapan untuk menghadapi konfrontasi bersenjata.

Dalam satuan Korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps), para prajurit kesehatan Marinir dijuluki The Hell's Doctor, atau dalam Bahasa Indonesia berarti "Dokter Neraka".

Ada sederet kisah yang menunjukkan betapa besarnya nyali prajurit kesehatan Marinir, saat menjalankan tugasnya di tengah pertempuran. Serma (Mar) Herman misalnya, ia pernah bertugas dalam operasi penumpasan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Herman disebut bertugas di Aceh mulai 2001 hingga 2003. Ia pernah menolong rekannya yang tertembak di bagian kaki. Herman dikisahkan langsung mencoba menghentikan aliran darah yang keluar, memberikan cairan infus, hingga melakukan evakuasi di tengah hujan peluru.

Tak hanya Herman, Kopda (Mar) Juhara juga pernah punya pengalaman yang sama. Juhara bahkan harus mengobati lukanya sendiri, akibat tertembak. Padahal di sisi lain, Juhara sudah menggunakan kevlar vest anti-peluru.

Juhara juga pernah memberikan pertolongan kepada rekannya yang tertembak di bagian paha. Peluru musuh membuat pembuluh arteri rekannya itu robek, sehingga darah terus keluar deras. Juhara akhirnya berhasil menghentikan pendarahan hebat dan melakukan evakuasi, meski harus membahayakan nyawanya.