Nyali Jenderal Kopassus TNI Ciut Usai Dibentak Presiden

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Meski dikenal murah senyum, Presiden ke-2 Republik Indonesia (RI), Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto, dikenal sangat keras dan tegas. Terutama, kepada para prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang saat ini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Soeharto yang merupakan Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat, pernah bertaruh nyawa dalam sejumlah palagan. Namanya tercatat sebagai salah satu pejuang dalam Perang Revolusi Nasional Indonesia. Oleh sebab itu, wajar saja jika Soeharto dikenal keras.

Dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku Perjalanan Prajurit Para Komando, Letjen TNI (Purn.) Sintong Panjaitan, pernah jadi target kemarahan Soeharto. Lantas, bagaimana ceritanya sampai-sampai Sintong kena omel Soeharto?

Menurut data lain yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana, Sintong adalah salah satu Pati TNI Angkatan Darat yang pernah memimpin di sana. Ya, Sintong menjabat Pangdam IX/Udayana, periode 12 Agustus 1988 hingga 1 Januari 1992.

Suatu ketika, Soeharto datang ke Dili, ibukota Timor-Timur, untuk melakukan kunjungan kerja Presiden RI. Sebagai orang nomor satu yang mengendalikan keamanan di provinsi ke-27 itu, Sintong pun diundang ke tempat menginap Soeharto untuk makan malam bersama.

Sintong pun datang memenuhi undangan Soeharto. Dalam pertemuannya dengan Sintong, Soeharto yang merupakan eks Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) berbicara banyak hal. Mulai dari rencana Operasi Jayawijaya di Papua, hingga masalah kesehatannya.

Suasana saat itu sangat hangat. Bahkan di sebelum Sintong bersama sang isteri, Lentina Napitupulu, diajak Ibu Negara saat itu, Hj. Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien), untuk berfotor bersama.

Setelah pertemuan itu, Sintong dan Soeharto kembali berjumpa dalam kesempatan lainnya di Bali. Dalam pertemuan keduanya dengan Soeharto, Sintong tengah mendampingi Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), Jenderal TNI (Purn.) Leonardus Benyamin Moerdani (Benny Moerdani).

Pada pertemuan itu, baik Sintong dan Benny sama-sama mendapatkan arahan dari Soeharto. Namun khusus untuk Sintong, Soeharto memintanya untuk bersiap menghadapi keterbukaan di Timor-Timur.

Hal ini seiring dengan keputusan Soeharto untuk menjadikan Timor-Timur sebagai wilayah yang terbuka. Jadi, siapa pun boleh mengunjungi provinsi eks jajahan Portugis itu untuk berwisata. Meski di sisi lain, masih banyak pemberontakan yang terjadi di sana.

Saat itu pula Sintong dimintai saran oleh Soeharto terkait bagaimana menyiasati keamanan di Timor-Timur. Mengingat, posisi Sintong saat itu adalah Pangdam IX/Udayana. Perlu diketahui, sebelum melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 20 Mei 2002, Timor-Timur masuk dalam wilayah teritorial Kodam IX/Udayana.

"Kamu sebagai panglima operasi di sana, apakah saran-saranmu supaya masalah Timor-Timur cepat selesai?" tanya Soeharto kepada Sintong.

Sintong yang dikenal dekat dengan seorang pemuka agama Katolik yang sangat berpengaruh di Timor-Timur, Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo atau yang dikenal Uskup Belo, memberikan jawaba kepada Soeharto.

Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) itu membawa masukan Uskup Belo, agar Timor-Timur dijadikan daerah istimewa seperti Aceh dan Yogyakarta. Sebab menurut Belo, masalah di Timor-Timur akan selesai jika status daerah istimewa diberikan.

"Mereka minta agar Timor-Timur dijadikan daerah istimewa seperti Aceh. Ini permohonan Uskup Belo dan gubernur atas nama rakyat Timor-Timur, bukan permohonan saya Pak," jawan Sintong.

Setelah melontarkan jawaban, alangkah terkejutnya Sintong dengan pernyataan Soeharto berikutnya. Sang Presiden marah besar mendengar jawaban Sintong. Soeharto tak mau menjadikan Timor-Timur sebagai daerah istimewa. Soeharto ingin Timor-Timur sama dengan provinsi lainnya.

"Apa istimewanya Aceh? Apa istimewanya Yogyakarta? Apa istimewanya Jakarta?" Kamu jangan bepikir mundur! Nanti daerah istimewa itu tidak ada lagi. Saya katakan, daerah istimewa itu tidak boleh!" tegas Soeharto.

"Sudah begitu saja ya. Dilanjutkan saja yang sudah kamu lakukan. Jangan pikirkan daerah istimewa lagi!" katanya.

Meskipun mendapat penolakan keras dari Soeharto, setidaknya Sintong sudah menyampaikan aspirasi rakyat Timor-Timur. Siapa sangka, kelah wilayah berjuluk Bumu Lorosae ini akhirnya memilih lepas dari kedaulatan NKRI.