Nyali Letnan Kopassus TNI Selamatkan Warga yang Digebuki Komandannya

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Operasi militer ternyata tidak hanya menghadirkan cerita menakutkan yang bikin merinding. Akan tetapi, ada kisah lucu seorang Perwira Tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dari belantara hutan Kalimantan Barat. Cerita unik yang sarat nilai budi pekerti datang dari Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Agum Gumelar.

VIVA Militer merangkum dari berbagai sumber, dan coba mengungkap sosok seorang Perwira Tinggi TNI berdarah Sunda ini jauh sebelum aktif di kancah perpolitikan nasional. Ya, Agum diketahui adalah anggota pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat.

Lulus dari Akademi Militer pada 1968, Agum kemudian bergabung dengan Kopassus dan ikut serta dalam sejumlah operasi militer. Dalam buku berjudul "Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani" karya Fenty Effendi dan Retno Kustiati, terungkap sebuah cerita unik yang membuktikan sosok kerendahan hati pria kelahiran Tasikmalaya, 17 Desember 1945 itu.

Kisah ini diceritakan Agum pada saat menjalani operasi tempur pertamanya di belantara rimba Kalimantan Barat. Agum yang saat itu berpangkat Letnan Dua TNI, bertugas di bawah Kompi Batalyon Infanteri (Yonif) 323/Buaya Putih.

"Tugas pertama itu waktu saya operasi tempur PGRS (Pasukan Gerilyawan Revolusioner Serawak) Parako (Para Komando) di Kalimantan Barat. Ini pengalaman tempur pertama saya di situ. Saya di bawah komando di Batalion 323 Buaya Putih Siliwangi sebagai Danton. Saya ditempatkan dan bertanggung jawab di tiga kampung," ujar Agum.

Suatu ketika, Agum hendak memberikan laporannya kepada Komandan Kompi (Danki) Yonif 323/Buaya Putih yang berkedudukan di Kantuk Asam. Setelah sampai di Markas Kompi, Agum yang tengah memberikan laporannya mendengar suara rintihan seseorang dari salah satu sudut.

Setelah meminta izin kepada Danki yang menurut Agum terkenal galak, akhirnya ia direstui untuk menemui orang tersebut. Ternyata, rintihan itu datang dari dalam sel di Markas Kompi di mana ada seseorang warga kampung Upak Hilir yang ditahan lantaran tidak mau membantu anggota TNI membawa logistik.

"Suatu ketika, saat saya mau melapor ke Danki di Markas Kompi, Danki ini terkenal galak, agak sableng juga lah. Itu saya mendengar ada orang merintih 'ampun, ampun' gitu di satu lokasi dan ternyata itu sel. Jadi, saya minta izin dan saya melihat sel itu dan ada seorang tahanan. Mungkin karena dipukuli lah atau diapain lah," kata Agum melanjutkan.

"Saya dekati dia saya tanya 'Hei kamu siapa namanya?' Dia jawab 'Nama saya Utan pak'. Saya tanya Danki waktu itu 'Kenapa Si Utan ini?' Beliau jawab 'Dia badung Pak Agum enggak mau bantu kita'. Saya tanya lagi 'Kamu kenapa enggak mau bantu tentara?' Dia jawab 'Istri saya sakit Pak'," ucap Agum mengisahkan.

Agum merasa yakin, pria bernama Utan yang tengah berada di sel tahanan Markas Kompi Yonif 323/Buaya Putih itu berkata jujur. Oleh sebab itu, Agum pun meminta izin lagi kepada Danki untuk membawa Utan ke posnya. Permintaan Agum pun dikabulkan.

Setelah kembali ke posnya, Agum kembali bertanya kepada pria tersebut dengan pertanyaan yang sama. Jawaban pria itu tetap sama, menegaskan bahwa sang istri sedang sakit. Agum pun kemudian memanggil anak buahnya untuk membawa obat dan bersama Utan ikut pulang untuk memeriksa kondisi kesehatan istrinya.

"Saya panggil Bintara Kesehatan saya untuk menyiapkan obat dan saya bilang 'Utan kamu pulang ke rumah sekarang' dan saya kasih uang sedikit. Dua minggu kemudian, lari lah datang dari jauh itu teriak-teriak panggil saya 'Bapak komandan, bapak komandan'," ujar Agum melanjutkan ceritanya lagi.

"Saya pikir ada informasi tentang gerombolan, dan kita sudah siap-siap. Ternyata itu Si Utan, dia salami dan peluk saya dan bilang 'Bapak komandan istri saya sudah melahirkan, laki-laki, saya kasih nama Agum Gumelar," tutup Agum sambil tertawa.