Nyankod ingin orang Indonesia belajar pemrograman dengan “bahasa rakyat”

NyankodMagz Front
NyankodMagz Front

Belajar pemrograman atau programming masih dianggap sebagai hal yang berat oleh sebagian orang. Namun, sebuah startup asal Bandung yang bergerak pada bidang media bernama Nyankod ingin merubah anggapan tersebut. Melalui Nyankod, Anda bisa belajar ilmu pemrograman dengan bahasa yang lebih sederhana, ringan, bahkan jenaka.

Didirikan pada Januari 2012, Nyankod semula merupakan majalah digital pemrograman dengan nama nyankodMagz yang terbit setiap bulan dan dapat di-download secara gratis. Seiring berjalannya waktu, Nyankod meluncurkan Codepolitan, sebuah media yang membahas berita seputar pemrograman. Nyankod sendiri dikelola oleh sekumpulan mahasiswa yang berasal dari tiga kampus berbeda yaitu UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), URINDO (Universitas Respati Indonesia), dan UNINDRA (Universitas Indraprasta PGRI).

Mengajarkan pemrograman dengan bahasa sendiri

Alasan dibalik lahirnya Nyankod berangkat dari media pembelajaran pemrograman yang ketika itu cenderung monoton dengan pemilihan bahasa yang kaku. Bahkan konten pembelajaran pemrograman saat itu terkesan hanya seputar web programming atau Java programming saja, sehingga sulit sekali menemukan materi belajar untuk bahasa pemrograman lain seperti Python, Perl, Bash, Ruby, dan lainnya.

Sekalipun materi tersebut sudah tersedia di internet, tapi sebagian besar menggunakan bahasa Inggris. Hal ini menjadi masalah tambahan khususnya bagi para pemula, karena apabila belajar bahasa dan logika pemrograman saja sudah sulit, apalagi jika mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu dari bahasa Inggris. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Nyankod memberikan solusi berupa media untuk mempelajari bahasa pemrograman dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sederhana dan menyenangkan agar mudah dipahami bahkan oleh pemula sekalipun.

Ciri khas unik yang mencolok ini membuat sosok sekelas Onno W. Purbo – seorang tokoh bidang teknologi di Indonesia yang cukup terkenal berkat karya tulisan dan prestasinya di kancah internasional – memberikan testimoni:

Baru baca-baca NyankodMagz, majalah cool buat para programmer muda. Kayaknya nggak ada majalah seperti ini di Indonesia kecuali NyankodMagz. Kayaknya Nyankod nanti harus tanggung jawab kalau banyak anak muda yang jadi programmer handal. Merdeka!!!

(Baca juga: “Surat Cinta” untuk menteri pendidikan terkait penghapusan mata pelajaran TIK)

Pertama kali membaca NyankodMagz pada edisi perdana, saya disambut dengan kata pembuka yang ringan khas bahasa percakapan anak muda sehari-hari. Pada halaman-halaman selanjutnya, saya mendapati bahwa pola penyampaian materinya juga menggunakan gaya bahasa yang menyenangkan, perumpamaan yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, hingga dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu. Ini membuat saya yang kurang berminat dengan dunia pemrograman pun menjadi tertarik untuk terus membaca, karena materinya mudah dimengerti dan memang menyenangkan. Sampai saat ini Nyankod sudah menerbitkan 16 edisi dengan jumlah download rata-rata 1.000 orang.

Edisi NyankodMagz
Edisi NyankodMagz

Merangkul komunitas

Nyankod mengungkapkan bahwa hampir lebih dari dua tahun ini mereka belum mendapatkan pendapatan sama sekali secara finansial. Namun, mereka berencana akan melakukan monetisasi melalui iklan baik di dalam website maupun di dalam majalah digital yang bisa di-download secara gratis. Selain itu, Nyankod akan menawarkan fasilitas berupa konten premium yang berbayar.

Nyankod saat ini sedang mengikuti proses inkubasi dari Inkubator Skystar Ventures yang berlokasi di UMN (Universitas Multimedia Nusantara). Mereka berencana akan memaksimalkan kekuatan komunitas untuk membangun dan mengembangkan produk mereka. Salah satu caranya ialah dengan meluncurkan Devository, sebuah platform untuk tanya jawab seputar pemrograman sekaligus menjadi media aktualisasi diri para developer Indonesia pada pertengahan bulan ini. Selain Nyankod ada juga startup lain yang ingin mengajarkan bahasa pemrograman yaitu Developer Mengajar.

(Diedit oleh Yasser Paragian dan Enricko Lukman)