Nyaris Bangkrut, Agus Bangkit Lagi Berkat Keris

Laporan Wartawan Surya, David Yohanes

TRIBUNNEWS.COM – Keberadaan ratusan keris dalam susunan etalase pojok lantai dasar (LG) Royal Plasa Surabaya, memberikan pemandangan berbeda di pusat perbelanjaan ini. Di tempat itulah, Agus Riyanto, konsultan keris memasarkan dagangannya.

Sekilas memang tidak ada yang istimewa dari Agus. Namun sekitar 500 keris yang dipunyai, membuat warga Ngagel Tirto III/51A ini mendapat sebutan Agus Keris. "Mungkin sekitar Tahun 2002 saya mulai menggeluti dunia keris," ucapnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), beberapa waktu lalu.

Agus memang menjadi sebuah rujukan bagi setiap orang yang ingin memperdalam keris. Langganannya saat ini dari mulai pengusaha hingga kalangan pejabat di negeri ini.

"Keris itu sesuatu yang punya energi dan bisa memberikan dampak bagi kehidupan bagi pemegangnya. Itulah mengapa banyak pengusaha atau pejabat mencari saya dan berkonsultasi masalah keris," terangnya.

Menurut Agus, Tahun 1990 dirinya pernah menggeluti bisnis pertanian hingga travel. Namun usahanya bangkrut karena kerap ditipu. Berbekal beberapa keris warisan orang tuanya, namanya mulai dikenal di kalangan penggemar keris. "Dari kondisi nyaris bangkrut, kini saya bisa bangkit dari keterpurukan dengan keris dan dipercaya banyak orang," ujarnya.

Keris bagi Agus sangatlah istimewa. Senjata tradisional ini terbuat minimal atas 3 jenis logam, yaitu besi, baja dan batu meteorit. Keris yang bagus akan dilengkapi dengan campuran emas, perak, titanium, klor, karbon dan nikel.

"Campuran tersebut kalau disatukan akan memberikan energi, sekalipun tidak diberi mantra-mantra," katanya. Karena energi inilah, keris memberikan bermacam tuah. Seperti untuk penglaris, tolak bala dan derajat atau pangkat. Tak heran banyak pejabat yang mencari keris jebis tertentu untuk "piandel". Agus pun menunjuk foto sejumlah pejabat yang mencari keris kepadanya.

Karena manfaat itu pula, harga keris juga tergolong fantastis. Seperti keris Singo Barong atau Nogo Sosro yang tembus harga Rp 100 juta. "Kalau dibilang mahal, memang mahal. Tapi orang kan kan melihat manfaatnya," tambah Agus.

Kini di stannya yang ada di Royal Plasa, setiap hari belasan orang yang ingin berkonsultasi. Tidak selalu membeli keris, kadang hanya untuk sekedar memperlihatkan keris dan meminta Agus untuk memberikan pendapat.

"Saya sengaja membuka stan di mal agar mudah dijangkau siapa saja. Selain itu saya ingin mengesankan bahwa keris bukan sesuatu yang wingit dan harus ditakuti," katanya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.