Nyatanya Tak Semua Orang Berhak Diberi Kesempatan Kedua

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: DJ - Palembang

Pribadi yang sempurna merupakan impian semua orang, meski kesempurnaan itu sendiri adalah milik Tuhan. Namun tujuan untuk menjadi pribadi yang semakin baik di tiap waktunya merupakan visi yang harus diterapkan dalam hidup. Tujuan ini menjadi semacam ‘kendali’ bagi manusia sehingga ada kemajuan yang dapat dibuat untuk setiap tahapan kehidupan. Bagi saya pribadi, berubah menjadi lebih baik tidak dapat semata-mata diukur dengan angka atau materi yang kasat mata, seperti kenaikan gaji atau pendapatan. Banyak hal lain yang sering kali diabaikan oleh banyak orang terkait dimensi perubahan.

Pada umumnya, perubahan ke arah yang lebih baik menjadi dambaan setiap orang. Herannya, tidak semua orang mau memanfaatkan kesempatan yang dimiliki untuk berubah lebih baik. Hal inilah yang dialami oleh orang yang seharusnya menjadi teman bagiku di sepanjang sisa hidup.

Entah ini suatu musibah atau memang inilah kelemahanku. Setelah sekian tahun usia pernikahan, aku menyimpulkan bahwa apa yang telah kulakukan adalah suatu kebodohan. Aku terlalu mudah percaya kepada orang, khususnya orang-orang dekat. Saking percayanya, dengan mudah pula aku akan memaafkan dan memberi kesempatan kedua, ketiga, dan entah sampai keberapa lagi karena dulu aku yakin bahwa manusia bila diberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik maka ia akan memanfaatkannya. Ternyata aku salah besar. Pengalaman justru mengajarkan bahwa tidak semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, dan seterusnya.

Masalah yang Ternyata Belum Selesai

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Torwai+Seubsri

Tahun ini usia pernikahanku akan memasuki delapan tahun. Angka ini tidak termasuk usia balita namun dalam prosesnya belum menunjukkan pertumbuhan yang semestinya. Bila dianalogikan dengan usia anak maka perkembangannya tidak menunjukkan kemajuan yang optimal malah cenderung stagnan. Sejarah pernikahan yang diawali dengan kebohongan-kebohongan suami membuatku bertanya-tanya: apa motivasinya menikahiku?

Tahun lalu aku memutuskan untuk pergi menjauh darinya bersama anak-anak dengan alasan melanjutkan studi karena merasa lelah diperah dengan harapan ia akan berubah. Hampir satu tahun di kota yang berbeda, ia mulai menunjukkan perubahan meski tidak terlalu signifikan. Aku begitu bahagia dan merasa bersyukur sehingga di akhir tahun lalu aku berusaha membangun kembali komunikasi di antara kami. Rasanya memang agak canggung di awal namun akhirnya mulai terbiasa. Begitu naifnya aku.

Tiba-tiba di awal tahun baru ini aku ditelepon oleh pihak bank. Aku berpikir suami dan mertua sudah menyelesaikan urusan ini semua hingga tuntas, tanpa pikir panjang aku menjawab dengan nada suara tinggi. Namun di akhir percakapan aku mulai berpikir, jangan-jangan suami belum menyelesaikan seperti apa yang dikatakannya. Setelah meminta maaf, aku segera menghubungi suami. Ternyata benar dugaanku, ia belum menyelesaikannya dan berhubung aset ini atas namaku maka pihak bank meneleponku.

Kuat Bersama Anak-Anak

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Rasanya kaki lemas dan mau pingsan, tapi aku malah menangis sejadinya. Aku berpikir suami sudah berubah dan aku salah besar, ia belum berubah. Apa yang harus aku lakukan? Aku pikir, satu per satu beban dari permasalahan yang dibuat suami mulai terselesaikan, ternyata hanya retorika. Ucapannya memang tidak pernah bernuansa kejujuran. Lalu untuk apa dulu ia memintaku menikahinya?

Rasanya terpuruk sekali, tidak tahu harus bilang apa. Semangat hidup seperti surut seketika. Ketika suatu hari, anak-anak memelukku dan bilang, “Aku sayang mama." Dan mereka berebutan memelukku seraya mengatakan, “Ini mamaku." Baiklah, aku akan bangkit demi mereka.

Meski sakit hati karena tidak dinafkahi, selalu dibohongi, bahkan ditipu, aku akan terus berjuang dan bertahan demi anak-anak. Cukup sudah, inilah keputusanku. Aku akan berubah menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Aku tidak akan dibodohi lagi untuk kesekian kalinya.

Aku punya dua malaikat cantik yang harus diperjuangkan yang tidak semua orang miliki. Di kota ini, aku berharap dapat memulai episode baru dalam hidupku. Prioritas saat ini adalah menyelesaikan studi dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak semampuku. Mendengar berbagai kisah teman-teman kuliah yang juga sambil mengasuh anak membuatku yakin dan percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan masa depan yang luar biasa indah. Dengan meminjam istilah yang dicetuskan oleh seorang teman dengan istilah “mamak siswa”. Ya, aku memang beda dan tidak pernah sama dengan ibu-ibu mana pun.

Aku boleh terlihat sama dengan ibu-ibu yang lain tetapi di dalamnya, effort yang kulakukan tidak ada yang tahu. Mulai saat ini aku berdiri tegak sebagai perempuan yang kuat karena aku adalah seorang ibu (tulang punggung), pegawai, dan juga mahasiswa. Kelak aku akan pulang dengan kemenangan dan membuktikan pada orang-orang yang telah membohongi dan menghinaku bahwa aku bisa menjadi pribadi yang kuat dan cerdas.

#GrowFearless with FIMELA