Obat COVID-19 Produksi Amerika Siap Digunakan Awal September 2020

Sumiyati, Sumiyati

VIVA – Eli Lilly and Co, obat yang dirancang khusus untuk mengobati virus corona atau COVID-19, diizinkan untuk digunakan pada awal September 2020. Obat bisa digunakan jika semuanya berjalan dengan baik, dengan dua terapi antibodi yang sedang diuji, demikian pernyataan kepala ilmuwan kepada Reuters, pada Rabu lalu. 

Obat ini juga telah melakukan uji praklinis tentang pengobatan antibodi ketiga untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru yang akan memasuki uji klinis pada manusia, dalam beberapa minggu ke depan, kata Chief Scientific Officer, Daniel Skovronsky, dalam sebuah wawancara.

Eli Lilly and Co, telah melakukan ujicoba pada manusia dengan dua terapi eksperimental. Obat tersebut termasuk dalam kelas obat biotek yang disebut antibodi monoklonal, yang banyak digunakan untuk mengobati kanker, rheumatoid arthritis dan banyak kondisi lainnya.

Obat antibodi monoklonal yang dikembangkan untuk melawan COVID-19 ini, dinilai lebih efektif dibanding obat-obatan yang digunakan ulang, yang saat ini sedang diuji untuk melawan virus.

Skovronsky mengatakan, obat yang juga dapat digunakan untuk mencegah penyakit ini dapat mengalahkan vaksin untuk digunakan secara luas sebagai obat COVID-19, jika terbukti efektif. 

"Untuk indikasi perawatan khususnya, ini bisa berjalan cukup cepat. Jika pada bulan Agustus atau September kita melihat orang-orang yang dirawat tidak dirawat inap, itu akan menjadi data yang kuat dan dapat memberikan otorisasi penggunaan darurat," ujarnya, dikutip Times of India, Jumat 12 Juni 2020. 

"Jadi bukan tidak masuk akal, obat itu bisa digunakan pada musim gugur, September, Oktober, November," lanjut dia. 

Awal bulan ini, Eli Lilly and Co, diumumkan telah memulai pengujian pasien untuk dua perawatan antibodi terpisah. Satu obat, LY-CoV555, yang ditunjuk saat ini sedang dikembangkan dalam kemitraan dengan biotech Kanada AbCellera. Sementara obat yang lain, JS016, sedang dikembangkan dengan pembuat obat China Shanghai Junshi Biosciences.

Keduanya bekerja dengan memblokir bagian protein lonjakan virus yang digunakan untuk masuk ke sel manusia dan bereplikasi. Kandidat obat antibodi ketiga, Lilly, bertindak pada bagian yang berbeda dari virus dan kemungkinan besar akan diuji dalam kombinasi dengan satu atau kedua obat yang lain. 

Rencananya, Lilly akan dibuat ratusan ribu dosis pada akhir tahun jika terbukti dapat mengobati pasien COVID-19 dengan menggunakan obat antibodi tunggal, dan bukan dengan kombinasi. obat ini juga diharapkan dapat melakukan uji klinis untuk pencegahan COVID-19 pada pasien panti jompo akhir tahun ini. 

Pembuat obat yang berbasis di Indianapolis ini berencana memproduksi obat-obatan di pabrik di Kinsale, Irlandia dan New Jersey. Mereka juga bersedia membantu memproduksi obat untuk perusahaan lain yang berhasil, jika Eli Lilly and Co, gagal dalam uji klinis. 

Hingga saat ini, Eli Lilly and Co masih terus menyaring antibodi melalui kemitraannya dengan AbCellera, yang bekerja sama dengan Institut Kesehatan Nasional AS untuk mengidentifikasi senyawa yang menjanjikan.