Obati Stres Anak dengan Terapi Bermain

Liputan6.com, Surabaya Pakar psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Hamidah, mengungkapkan metode terapi bermain menjadi solusi untuk menurunkan tingkat stres pada anak. Terapi bermain merupakan suatu model untuk membangun proses interpersonal pada anak sebab bermain merupakan cara alami bagi anak untuk belajar dan berinteraksi dengan orang lain.

“Usia anak-anak adalah dunia bermain. Jadi ketika mengalami kondisi yang tidak menyamankan dan kurang membahagiakan dia, kita bisa bantu dengan terapi bermain,” ujarnya, Senin (17/2/2020). 

Terapi tersebut dapat dilaksanakan oleh terapis yang sudah terlatih dengan menggunakan kekuatan terapeutik bermain. Tujuannya, untuk membantu anak dalam mencegah atau menyelesaikan kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan serta pengembangan optimal.

Terapi bermain bisa diwujudkan dengan beragam cara, seperti mewarnai, menggambar, bermain peran, dan membangun sesuatu. Bahan yang digunakan juga bermacam-macam, seperti kertas, alat rumah tangga, pewarna, plastisin, dan lainnya.

“Masing-masing mainan itu akan memberikan stimulus untuk anak itu diminta mengekspresikan perilaku tertentu,” ucapnya.

Sebelum menjalankan terapi, sang terapis membuat sebuah penilaian untuk menyesuaikan antara keahlian dan metode apa yang paling tepat untuk diberikan pada anak, sesuai dengan permasalahan atau stresnya masing-masing. Dari penilaian tersebut, terapis akan menentukan intervensi yang digunakan, lama sesi, orang yang terlibat, fasilitas, dan sarana yang dibutuhkan.

Pertemuan tidak hanya dilakukan satu kali, bisa juga dalam beberapa sesi tergantung pada kondisi anak. Stres kategori ringan dapat diterapkan dua sampai tiga sesi pertemuan. Akan tetapi, jika persoalan lebih dalam seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga maka diperlukan lima sampai enam sesi pertemuan.

Dalam setiap pertemuan, proses healing tidak hanya dengan bermain saja, melainkan juga dengan proses diskusi, dialog, dan bercerita. Hal itu menjadi sebuah kesempatan bagi terapis untuk menggali informasi lebih banyak, karena anak dapat bercerita dengan lebih leluasa.

Kemudian, terapis juga melakukan monitoring melalui pre-test dan post-test sebagai alat ukur tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan terapi.

“Anak bisa bikin macam-macam. Dari situ, terapis akan memberikan pertanyaan yang terapeutik juga. Jadi ketika dia cerita itu ada efek bisa melepaskan emosi-emosi yang selama ini mungkin belum terlepaskan,” tuturnya.

Hamidah menyebutkan dua dasar yang digunakan sebagai pendekatan dalam terapi bermain, yakni psychodinamic dan humanistik theory. Strategi dan proses yang merujuk pada setiap pendekatan akan tergantung dari keahlian setiap terapis.