Obesitas Lebih Rentan Kena COVID-19?

Ichsan Suhendra, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Jumlah konfirmasi positif kasus COVID-19 kembali meningkat dalam kurun beberapa hari belakangan ini. Meningkatnya jumlah kasus konfirmasi tersebut, buat masyarakat diminta untuk terus waspada, dan menerapkan protokol kesehatan serta menjaga kesehatan.

Dalam banyak penelitian yang diterbitkan selama periode pandemi ini, telah diklaim banyak kondisi medis, seperti obesitas, terkait erat dengan COVID-19. Meskipun dampak negatif COVID-19 pada orang tua dan orang dengan penyakit komorbid bukanlah fakta tersembunyi, banyak penelitian menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara obesitas dan COVID-19 dalam hal morbiditas dan mortalitas.

Dilansir dari laman Times of India, obesitas tidak hanya menjadi faktor dalam peningkatan risiko dan keparahan yang ditimbulkan oleh virus corona baru. Tetapi juga membuat perawatan terapeutik dan pengobatan menjadi tidak efektif dalam banyak hal.

Seseorang yang menderita obesitas berhubungan serius dengan penyakit kronis lainnya, termasuk hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit hati, dan lainnya, yang pada akhirnya meningkatkan faktor risiko COVID-19. Obesitas pada dasarnya adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan perubahan metabolisme sistemik, termasuk resistensi insulin dan masalah serius lainnya.

Meski begitu, banyak penelitian menunjukkan bagaimana disregulasi hormon dan nutrisi pada individu dengan obesitas dapat mengganggu respons terhadap infeksi, yang saat ini dapat dikaitkan dengan infeksi virus corona. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit telah mengkhawatirkan orang-orang yang termasuk dalam kategori BMI obesitas yakni pada skala 40 atau lebih memiliki kemungkinan risiko dan bahaya yang ditimbulkan oleh COVID-19 pada kesehatan mereka.

Peneliti mengklaim bahwa obesitas dapat menghambat respons kekebalan terhadap patogen mematikan, yang dapat menyebabkan peradangan parah, pembekuan darah, dan masalah medis parah lainnya, yang semuanya dapat memperburuk situasi COVID-19.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Obesity Reviews, Melinda Beck, rekan penulis penelitian tersebut mengklaim bahwa orang dengan obesitas yang divaksinasi flu memiliki risiko dua kali lipat untuk tertular bahkan setelah vaksinasi dibandingkan orang yang sehat. Dia mendesak uji coba vaksin COVID-19 untuk memasukkan orang-orang dengan obesitas, untuk memastikan bahwa mereka juga memiliki kesempatan untuk selamat dari pandemi ini.

Selain itu, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Jama Internal Medicine yang mengamati 3 ribu pasien berusia 18 hingga 34 tahun, orang dewasa muda dengan kondisi yang mendasari seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi berada pada risiko kematian tertinggi akibat COVID-19. Sebuah "meta-analisis" dari berbagai penelitian yang melibatkan 399 ribu pasien, yang diterbitkan pada Agustus di jurnal Obesity Reviews, memperkirakan bahwa orang yang gemuk dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit setelah tertular virus corona, dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas.