OCBC NISP:Investor harusnya yakin pada obligasi dan reksadana ke depan

Wealth Management Division Head OCBC NISP Juky Mariska mengatakan investor harus memiliki keyakinan pada instrumen investasi obligasi dan reksadana di sisa akhir tahun ini hingga tahun depan.

Menurut dia, hal ini dikarenakan semakin adanya kepastian kebijakan moneter di tingkat global maupun domestik pada semester-II tahun ini, setelah di awal tahun obligasi tidak terlalu agresif karena harga yang cukup challenging.

"Dengan lebih adanya kepastian suku bunga The Fed dan suku bunga Bank Indonesia (BI), harusnya nasabah yang mau obligasi, sekarang ini sudah mulai boleh percaya ke obligasi," kata Mariska di depan para awak media di Jakarta, Rabu.

Sedangkan, terkait reksadana, walaupun saat ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah tinggi di angka 7.100-7.200, menurut dia, investor yang berorientasi jangka panjang layak mempertimbangkan instrumen ini, tentunya dengan memperhatikan kebijakan pemerintah dan proyeksi perekonomian ke depan.

Baca juga: OCBC NISP berikan strategi alokasikan dana untuk pendidikan anak

"Sekarang Fed dan Indonesia mulai menaikkan suku bunga, harga BBM naik, sebenarnya di mata investor asing dan ekonomi, ini bukan angka yang jelek. Secara fiskal harusnya itu mendukung pergerakan (positif) IHSG, untuk nasabah yang mau berinvestasi jangka panjang di reksadana, tahun depan harusnya cukup bagus," kata Mariska.

Dia menjelaskan Asset Under Management (AUM) dalam bisnis manajemen kekayaan (wealth management) Bank OCBC NISP telah tumbuh sebesar 30 persen secara year on year (yoy) pada semester-I tahun 2022 ini.

Dia melanjutkan, saat ini hampir 30 persen nasabah bisnis wealth management miliknya sudah aktif menggunakan aplikasi One Mobile untuk transaksi forex, reksadana, dan obligasi.

"AUN tumbuhnya cukup bagus dibanding tahun lalu, kita tumbuh sekitar 30 persen secara overall year on year per semester I (tahun 2022)," kata Mariska.

Dalam kesempatan ini, ia juga memaparkan dalam mempersiapkan dana pendidikan anak di masa depan tidak bisa hanya dengan menabung.

Namun, harus dengan strategi investasi melalui instrumen yang disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu kebutuhan, karena ke depan nilai mata uang akan terus tergerus oleh inflasi.

Baca juga: Rukita-Bank OCBC siapkan Rp724 miliar dukung investor muda berbisnis