Ogah Bayar Pajak, Orang Kaya Pakai Nama ATR Buat Beli Mobil Sport Mewah

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Suryadi Sasmita menyambut baik penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai pengganti Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Sebab hal ini bisa meminimalisir orang-orang kaya yang meminjam nama pegawai untuk kendaraan mewahnya demi menghindari pengenaan pajak.

"Kalau pakai NIK, bos-bos yang selama ini pakai nama supirnya atau pembantu buat mobil sportnya ini bisa kena," ungkap Suryadi dalam Diskusi Publik: Wajah Baru Perpajakan Indonesia Pasca UU HPP, Jakarta, Selasa (23/11).

Penggunaan NIK ini akan memudahkan pemerintah melihat aktivitas seseorang dari berbagai transaksi yang dilakukan. Sehingga memudahkan pemerintah dalam memungut pajak para wajib pajak.

Selain itu, kata Suryadi, penggunaan NIK juga bisa menjerat para pemain investasi kripto yang selama ini tidak membayar pajak. Terlebih keuntungan yang didapatkan dari investasi ini lebih besar dari perputaran dana di instrumen saham.

"Luar biasa besar (pendapatannya) dan mereka ini belum bayar pajak," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kripto

Bitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.
Bitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.

Suryadi mengatakan biasanya kripto digemari anak-anak muda yang menjadi kaya dalam waktu singkat. Tercermin dari nilai transaksi kripto di Indodax yang mencapai Rp 3000 triliun. Begitu juga dengan gaya hidup mewah dengan barang-barang konsumtif.

"Makanya perlu declare karena nanti ini sudah tercatat. Kalau tidak pakai pakai NPWP dan diganti NIK semua bisa tercatat," kata dia.

Maka dia menyarankan masyarakat yang masih menggunakan modus ini untuk melaporkan sendiri harta dan aset yang dimiliki dalam Program Pengungkapan Sukarela (PPS).

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel