Ogah Jadi Dokter, Letnan TNI Pilih Jalankan Misi Menantang Maut

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Banyak orang yang waktu kecil ditanya "sudah besar mau jadi apa?" jawabannya "jadi dokter". Namun demikian, sosok yang akan diceritakan ini justru sudah ingin mengabdi kepada negara sebagai prajurit TNI sejak masih kecil.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, keinginan sosok ini untuk menjadi tentara sempat mendapat halangan dari orang tuanya, terutama sang ayah. Sang ayah yang berprofesi sebagai seorang dokter, menginginkannya untuk mengikuti jejaknya. Sosok prajurit itu tak lain adalah Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean.

Ayahnya dalah dr. A. L. Tendean, seorang dokter yang banyak membantu pejuang saat Perang Kemerdekaan Indonesia. Banyaknya pejuang yang datang ke rumah Pierre lah yang ternyata membuatnya ingin menjadi seorang prajurit/

Namun demikian, sang ayah kerap menentang keinginan Pierre untuk menjadi tentara. Oleh sebab itu, pada 1960 Pierre tak hanya mendaftar ke Akademi Militer Nasional (AMN), ia mengikuti juga seleksi untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Mendaftar ke FKUI, ternyata hanya dilakukan Pierre untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya. Keinginannya besarnya tetap menjadi seorang tentara. Makanya, saat mengikuti ujian masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pierre sama sekali tidak mengerjakan soal tes. Maka dipastikan, Pierre gagal lulus.

Di sisi lain, Pierre yang dikenal sangat cerdas akhirnya diterima di Akademi Militer Nasional. Hingga pada akhirnya, sang ayah pasrah dan mempersilahkan Pierre untuk menempuh pendidikan militer.

Usai menyelesaikan pendidikan militer pada 1962, Pierre yang kala itu berpangkat Letnan Dua (Letda) Czi. (Korps Zeni) TNI, langsung mendapat tugas di Komando Daerah Militer II/Bukit Barisan (Kodam II/BB), atau yang saat ini bernama Kodam I/Bukit Barisan.

Saat itu juga, Pierre menduduki posisi sebagai Komandan pleton (Danton) Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 2 Kodam II/BB. Siapa sangka, Pierre dipercaya untuk menjalankan misi berbahaya, saat ditugaskan oleh Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat untuk menyusup ke Malaysia.

Tugas yang diberikan kepada Pierre, adalah salah satu dari banyaknya aksi TNI dalam bagian Operasi Dwikora. Tahu bahwa sang putra mendapat tugas berbahaya di garis depan, sang ibu, Maria Elizabeth Cornet, merasa sangat khawatir.

Informasi bahwa Pierre ditugaskan untuk menyusup ke Malaysia, diketahui Maria dari kolega dekatnya, mertua Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, dan Mayjen TNI Dendi Kadarsan.

Meski demikian, Pierre berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dan selamat kembali ke Indonesia. Keberhasilannya menjalankan tugas membuat nama Pierre tersohor di kalangan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat saat itu. Banyak jenderal yang ingin menjadikan Pierre sebagai ajudannya.

Siapa sangka, Pierre akhirnya terpilih menjadi ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) RI, Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, pada 1965. Dengan jabatan barunya itu, pangkat Pierre pun dinaikkan menjadi Letnan Satu (Lettu) Czi.

Siapa sangka, jabatannya sebagai Ajudan Menhankam RI adalah posisi terakhirnya sebagai Perwira Pertama (Pama) TNI Angkatan Darat.

Pierre gugur di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 1 Oktober 1965, setelah menjadi korban penculikan dan pembunuhan Gerakan 30 September 1965 yang didalagi oleh anggota Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).