OJK: Banyak Perusahaan IPO di BEI, Namun Nilainya Tak Besar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut cukup banyak perusahaan yang berminat untuk melantai di Bursa Efek Indonesia di 2021. Sejauh initerdapat 68 perusahaan yang masuk dalam pipeline Initial Public Offering (IPO) di tahun ini. Namun ada juga yang menunda rencana tersebut.

"Minat IPO ada 24 perusahaan, 68 perusahaan di pipeline, yang menunda banyak juga, tergantung kebutuhan. Belum ada BUMN," kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Yunita Linda Sari dalam acara pelatihan dan Media gathering terkait Perkembangan dan Arah Pengawasan Perbankan serta Pasar Modal oleh OJK, di Bali, Jumat (9/4/2021).

Lebih lanjut, Yunita mengatakan saat ini jumlah emiten dan perusahaan publik di Indonesia yang terus mengalami kenaikan.

"Untuk perkembangan kita sudah punya 803 emiten ini luar biasa sekali, karena memang 1-2 tahun belakangan ini proses raising fund di pasar modal itu banyak sekali walaupun nominalnya tidak seberapa besar jika dibanding dengan jangka 2-3 tahun yang lalu walaupun sedikit tapi value-nya nominalnya banyak," katanya.

Dari 803 emiten itu terbagi menjadi 671 emiten saham, 52 emiten obilgasi atau sukuk, dan 80 emiten saham dan obligasi atau sukuk. Meskipun jumlah emiten perusahaanya semakin banyak, namun nominalnya mengecil.

Hal itu terlihat dari 803 emiten yang menjadi perusahaan tercatat di BEI hanya sebanyak 724 emiten, dan 9 jumlah perusahaan publik.

"Tapi sekarang memang jumlah emiten perusahaanya banyak tapi rata-rata yang dibutuhkan atau di offer tidak semuanya turun. Emiten saham dan obilgasi sukuk yang meng-isu atau raising fund ada 80 emiten. Dari 803 itu 724-nya lifting dibursa berarti sisanya tidak, kemudian untuk perusahan publiknya 9," kata Yunita.

SID

Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Di sisi lain ada yang menggembirakan, OJK mencatat jumlah single investor ID (SID) hingga akhir Februari 2021 telah mencapai 4,5 juta lebih investor.

Hal itu didukung dengan adanya pandemi covid-19 yang membuat kalangan masyarakat semakin aktif untuk berinvestasi di sektor saham.

Menurutnya, optimisme Pasar Modal Indonesia mengalami peningkatan yang sangat-sangat signifikan dari angka investor domestik terutama untuk ritel domestik.

" Jadi, selama pandemi ini total SID itu naiknya sangat lumayan signifikan kalau dilihat dari data yang ada itu sampai Februari 2021 sudah ada 4.515.103 SID. Jadi, SID ini satu orang bisa investasi di saham langsung, SBN, reksa dana karena satu SID berlaku bagi semua investor yang berinvestasi di beberapa produk," pungkasnya.