OJK Ingin Startup Indonesia Tak Hanya Jago Kandang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan di era disrupsi 4.0 ini, semakin banyak startup yang berkembang dan berlomba menyasar pasar internasional demi memperluas bisnis mereka.

Karena ketatnya persaingan tersebut, Wimboh meminta agar pemain start up lokal bisa berkiprah di mancanegara.

"Indonesia dilirik karena penduduknya banyak, jangan kita menjadi pasar, tapi jadi player. Startup kami minta keluar kandang, jangan jago kandang saja, kami monitor mereka dan ruang masih besar," ujar Wimboh dalam webinar OJK Mengajar, Kamis (19/11/2020).

Wimboh bilang, teknologi akan menjadi backbone pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan karena memiliki ruang peluang yang masih luas.

Kemudian, potensi permintaannya besar karena penduduknya banyak dan sekarang ini ada beberapa daerah yang sudah bisa dijangkau teknologi.

"Apalagi di masa pandemi, pertemuan fisik mestinya dihindari. Ini juga bagi UMKM bisa bangkit secara cepat dengan pembinaan di daerah," ujar Wimboh.

Sebenarnya sudah ada beberapa start up yang melebarkan sayapnya ke Filipina dan Thailand. Kendati, angkanya tentu harus ditingkatkan lagi. Dirinya juga mendorong agar generasi mudah bisa menjadi seorang entrepreneur untuk menyokong ekonomi Indonesia.

"Jangan semua cita-cita jadi pegawai, kami dorong jadi entrepreneur. Tujuannya membantu masyarakat Indonesia mendapat produk keuangan yang murah, nyaman, aman, dan cepat," katanya.

OJK: Ekonomi Domestik Jadi Kekuatan Indonesia Lawan Covid-19

Petugas saat bertugas di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas saat bertugas di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indonesia menjadi satu dari sekian negara yang terkena imbas pandemi Covid-19. Gegaranya, Indonesia sempat mengalami pertumbuhan ekonomi negatif 5,32 pada kuartal II 2020, meskipun nilainya berangsur membaik menjadi minus 3,49 pada kuartal III.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, ekonomi Indonesia lebih resilient dalam menghadapi dampak pandemi karena memiliki kekuatan di sektor domestik.

"Kata orang Jawa, Indonesia ini masih ada untungnya. Indonesia ini island country, penduduknya besar. Lebih didukung ekonomi domestik, permintaan domestik. Ada ekspor impor cuma tidak begitu besar dibandingkan negara yang open economy," kata Wimboh dalam tayangan virtual OJK Mengajar, Kamis (19/11/2020).

Wimboh menjelaskan, 20 persen porsi ekspor negara-negara ASEAN ke Amerika Serikat berasal dari Malaysia. Ketika AS terkena Covid-19, otomatis nilai ekspor tersebut turun dan berdampak ke ekonomi Malaysia itu sendiri.

Namun, Indonesia didukung oleh permintaan domestik dari kurang lebih 270 juta penduduk yang masih membutuhkan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) sehingga hal ini tidak terganggu oleh Covid-19. Kendati, sektor pariwisata dan perhotelan memang langsung terkena dampak hebatnya.

"Yang keganggu itu yang nggak bisa fine dining, nginap di hotel mewah, dan itu kan bukan kebutuhan primer. Jadi masih terjaga. Memang ekspor impor terganggu, tapi karena kita nggak significantly didukung itu, jadi nggak terdampak begitu besar," katanya.

Wimboh bilang ekonomi Indonesia akan lebih cepat bangkit didukung dari ekonomi masing-masing daerah. Hal ini karena ekonomi daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan.

"Terutama melalui UMKM-UMKM, kita buat kebijakannya mendorong sektor UMKM," ujar Ketua Dewan Komisionaer OJK.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: