OJK Klaim Bank Telah Imbangi Suku Bunga BI: Sudah Satu Digit

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantah bahwa perbankan belum mengimbangi secara responsif tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang telah turun ke posisi 3,5 persen saat ini.

Plt. Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia OJK Tony menyatakan, setiap kali BI menurunkan suku bunga acuannya, perbankan dipastikannya konsisten ikut menurunkan suku bunga kredit.

"Ini terus terang perbankan kita selama beberapa tahun terakhir terus menerus turunkan suku bunga, itu cukup besar lah penurunan suku bunganya," kata dia dalam diskusi secara virtual, Rabu, 24 Februari 2021.

Dia menegaskan, suku bunga kredit perbankan saat ini sudah di posisi satu digit. Tony mencontohkan, ini terjadi untuk Bank Mandiri yang telah menetapkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) tenor 10 tahun.

"Pinjam kredit ke Bank Mandiri 8 persen 10 tahun, itu fix, itu Bank Mandiri, BTN juga serupa dia juga sudah menurunkan ke single digit, ini hampir seluruh bank di Indonesia sudah mengarah ke single digit," tegas Tony.

Namun demikian, Tony menekankan, penurunannya memang agak lambat setelah turunnya BI-7 Day Reverse Repo Rate. Sebab, perbankan memiliki jeda waktu untuk menghitung risiko penurunan suku bunga.

"Memang di sini ada hitung-hitungannya di perbankan, tapi perbankan sendiri coba menekan berbagai aspek lain yang ada seperti marginnya dikurangi, risiko debitur betul-betul dilihat sehingga premi risikonya berkurang," tuturnya.

Tony memastikan, perbankan cepat atau lambat pasti menyesuaikan suku bunga kredit terhadap suku bunga acuan BI. Di sisi lain, dia menilai, Suku Bunga Dasar Kredit di OJK saat ini juga terbilang sudah cepat turun.

"Jadi memang kalau kita lihat cepat atau lambat akan turun suku bunga kredit di Indonesia pada akhirnya. Ini termasuk cepat sebenarnya teman-teman perbankan menurunkan suku bunga," ungkap dia.

Bank Indonesia tercatat telah menurunkan suku bunga acuan 225 basis poin (bps). Sementara itu, suku bunga deposito bank turun 181 bps menjadi 4,27 persen, sedangkan suku bunga kredit turun 83 bps menjadi 9,7 persen.

Atas dasar ini, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung bahkan menduga kondisi ini menandakan perbankan ingin mengambil keuntungan di tengah tren penurunan suku bunga acuan.

Sebab, selisih antara tingkat suku bunga acuan BI dengan tingkat suku bunga kredit ditegaskannya terlampau besar. Di samping, penurunan suku bunga deposito lebih cepat ketimbang suku bunga kredit.

"Ini kelihatan spread nya sangat meningkat, ini justru mengalami pelebaran artinya bank-bank coba mendapatkan keuntungan yang lebih di saat seperti ini," papar Juda, 22 Februari 2021.