OJK: Krisis energi sebabkan ketidakpastian global 2022

·Bacaan 2 menit

Direktur Pemeriksaan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Broto Suwarno menyatakan krisis energi yang dialami berbagai belahan dunia dapat menyebabkan ketidakpastian terhadap proses pemulihan dan perbaikan ekonomi global pada 2022.

"Krisis energi yang dialami oleh berbagai belahan dunia menyebabkan kenaikan harga komoditas yang diikuti peningkatan harga bahan baku dan logistik," katanya dalam InfobankTalkNews Media Discussion di Jakarta, Jumat.

Edi mengatakan hal itu dapat terjadi mengingat krisis energi berpotensi menimbulkan kenaikan harga komoditas yang kemudian pada akhirnya diikuti dengan peningkatan harga bahan baku dan logistik.

Ia menuturkan hal tersebut tentu mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang positif pada tahun depan oleh International Monetary Fund (IMF) yaitu sebesar 4,9 persen (yoy).

Baca juga: OJK catat total penghimpunan dana di pasar modal capai Rp273,9 triliun

Proyeksi pertumbuhan positif itu saja sebenarnya sudah lebih rendah dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini yang sebesar 5,9 persen (yoy) akibat ketidakpastian perkembangan COVID-19.

Sementara itu, ia menjelaskan ekonomi global saat ini sudah mulai kembali pulih setelah sempat mengalami perlambatan akibat penyebaran berbagai varian COVID-19.

Pemulihan ini didorong oleh masifnya pelaksanaan vaksinasi dan penanganan pandemi di negara maju sehingga mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian mulai berjalan kembali.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang juga semakin membaik yang tercermin dari meningkatnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) dan penjualan ritel serta PMI manufaktur yang kembali ke zona ekspansif.

Baca juga: Ketua OJK: Restrukturisasi kredit turun hingga Rp738,60 triliun

Dari sisi dalam negeri, perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan cukup positif pada triwulan II-2021 yakni tercatat 7,07 persen (yoy) dan indikator ekonomi lainnya yang juga menunjukkan perkembangan positif.

Tingkat inflasi tahunan meningkat 1,6 persen (yoy) dengan indeks harga konsumen di level 106,53 per September 2021.

Tingginya permintaan terhadap komoditas di pasar global turut menyebabkan kinerja ekspor Indonesia meningkat dan diperkirakan terus menguat hingga semester I-2022.

"Dari berbagai perkembangan indikator makro ekonomi Indonesia kami optimis akan terus mengalami perbaikan di 2021 dan 2022 dengan catatan penyebaran pandemi COVID-19 tetap terkendali," tegas Edi.

Baca juga: OJK optimistis kredit tumbuh 4-5 persen sampai akhir tahun ini

Baca juga: Cukup besar, OJK: Likuiditas perbankan di SBN capai Rp1.502,91 triliun

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel