OJK optimistis hadapi tantangan-tantangan ekonomi pada 2022

·Bacaan 2 menit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis menghadapi tantangan-tantangan ekonomi pada 2022 mulai dari varian baru Omicron hingga normalisasi kebijakan oleh negara-negara maju.

"Kita tahu pencapaian di 2021 ini tidak membuat kita berpuas diri. Pertama adanya varian baru Omicron di beberapa negara, ini menjadi perhatian kita," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat pembukaan perdagangan saham pada 2022 di Jakarta, Senin.

Tantangan berikutnya, lanjut Wimboh, yaitu pembiayaan proyeks strategis di Tanah Air yang jumlahnya cukup besar yang harus dipikirkan bagaimana pembiayaannya, terutama sektor infrastruktur, dan bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan.

Baca juga: Sri Mulyani paparkan panitia seleksi calon anggota DK OJK 2022

"Ketiga, kita tahu normalisasi kebijakan negara maju tidak boleh kita abaikan. Inflasi di beberapa negara sudah meningkat," ujar Wimboh.

Wimboh menyampaikan, tantangan selanjutnya yaitu terkait penurunan emisi karbon, digitalisasi, dan juga perlunya sumber pertumbuhan ekonomi seiring semakin banyaknya populasi penduduk Indonesia.

"Kami tetap optimis tantangan-tantangan tersebut dapat kita manage dengan baik ke depan mengingat kita punya modal yang cukup besar, penduduk kita besar, resources kita banyak, national resources kita belum semua kita olah, sehingga kita punya ruang untuk berbagai hal ke depan," kata Wimboh.

Baca juga: Pendaftaran Calon Komisioner OJK dimulai 7 Januari 2022

Oleh karena itu, otoritas pun memiliki kebijakan prioritas pada 2022. Pertama adalah penerapan bursa karbon dan implementasi ekonomi hijau yang didukung dengan taksonomi hijau sebentar lagi diterbitkan.

"Ini harus dipersiapkan operasionalisasi infrastruktur bursa karbon. Ini menjadi salah satu prioritas OJK dan tentunya legalitas untuk itu akan kami siapkan," ujar Wimboh.

Prioritas berikutnya yaitu optimalisasi indeks berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Lalu, otoritas juga akan memperluas basis emiten di antaranya melalui sekuritisasi aset dan pembiayaan proyek strategis yang jumlahnya cukup besar pada 2020-2024 mencapai Rp6.445 triliun.

OJK juga akan mengakomodir perusahaan rintisan atau startup berbasis teknologi untuk melakukan penawaran umum.

"Kami juga akan tetap mengakomodasi emiten yang berbasis teknologi. Kita sudah mengeluarkan POJK tentang Multiple Voting Share. Dan penguatan basis emiten ini akan kita ikuti dengan literasi dan edukasi," kata Wimboh.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel