OJK Optimistis Kinerja Pasar Modal Masih Positif pada 2022, Ini Alasannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pasar modal tanah air masih akan menorehkan kinerja positif tahun depan. Hal itu seiring dengan pemulihan ekonomi yang terjadi khususnya di Indonesia, sejalan dengan tren kasus COVID-19 yang mulai melandai.

Direktur Pemeriksaan Pasar Modal OJK, Edi Broto Suwarno menilai, industri pasar modal domestik saat ini secara umum telah pulih dari dampak pandemi COVID-19.

Memasuki akhir Oktober 2021, Indeks Harga Saham Gabungan per 28 Oktober ditutup pada level 6.524,08 atau tumbuh 9,12 persen ytd. Angka itu telah melampaui pre pandemi level pada Desember 2019 mencapai 6.269,54

"Penguatan ini terutama ditopang oleh terus bertambahnya jumlah investor domestik di pasar modal yang mampu menahan pengaruh capital outflow investor non-resident,” kata Edi dalam diskusi virtual Outlook Pasar Modal 2022, Jumat (29/10/2021).

Hingga akhir September 2021, jumlah investor di pasar modal mencapai 6,43 juta, ini naik 65,73 persen ytd. Di sisi lain, berdasarkan kinerja laporan keuangan emiten kuartal II 2021, Edi mendapati sebagian besar emiten masih membukukan laba di tengah upaya pemulihan dari dampak pandemi.

Sementara itu, lanjut Edi, pasar surat utang Indonesia terkontraksi akibat peningkatan yield US Treasury. Rata-rata yield SBN melemah pada 16,8 bps, dan investor non residen mencatatkan net sell sebesar Rp 23,71 triliun ytd.

“Sebaliknya, kinerja obligasi korporasi meningkat. Di mana Indonesia Composite Bonds Index atau ICBI kemarin berada pada level 33,15 atau naik sekitar 5,06 persen ytd,” imbuhnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penghimpunan Dana dari Pasar Modal

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Penghimpunan dana oleh korporasi melalui pasar modal juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hingga kuartal III 2021, penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp Rp 266,82 triliun, dan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.

"Pertumbuhan nilai emisi ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pasar Modal Indonesia Indonesia. Juga mencatatkan pertumbuhan jumlah emiten yang melakukan Initial public offering terbesar di ASEAN di tahun ini,” kata Edi.

Tak hanya saham. Kinerja industri reksa dan juga masih relatif terjaga. Per 30 September 2021 tercatat nilai NAB reksa dana naik 1,70 persen mtd menjadi Rp 551,76 triliun.

Pasar modal Syariah Indonesia turut mengalami perkembangan. Hingga 22 Oktober 2021, nilai outstanding sukuk korporasi mengalami kenaikan sebesar 16,47 persen ytd. Sedangkan indeks saham Syariah Indonesia atau ISSI per 28 Oktober 2021 tercatat naik 3,83 persen ytd dengan kapitalisasi pasar sebesar 3.654 triliun.

Tantangan

Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Ke depan kami masih melihat ada beberapa hal yang menjadi tantangan di tahun 2022 dan perlu kita terus cermati,” ujar Edi.

Tantangan tersebut, pertama, pemulihan ekonomi global maupun domestik yang masih bergantung pada ketidakpastian berakhirnya pandemi covid-19. Disusul potensi terjadinya gelombang ketiga dari varian baru covid-19.

"Ini masih menjadi faktor yang memberikan tekanan terhadap perekonomian dan kinerja sektor jasa keuangan meskipun saat ini kasus Global telah mulai melandai,” kata dia.

Kedua, yakni unexpected circumstance seperti krisis energi maupun kasus Evergrande yang dapat memicu perlambatan perekonomian di Tiongkok.

Ketiga, normalisasi kebijakan moneter atau tapering off bank sentral Amerika yang diperkirakan dimulai pada November 2021. Namun demikian, belajar dari pengalaman tapering 2013, Edi mengatakan rencana tapering off kali ini dikomunikasikan dengan cukup baik oleh The Fed. Sehingga diharapkan tidak akan menimbulkan Gejolak pasar yang cukup signifikan.

Didukung Pertumbuhan Ekonomi

Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah berbagai peluang dan tantangan yang ada pada 2022, OJK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perbaikan signifikan. Sejalan dengan bergeraknya kembali aktivitas perekonomian.

“Di sektor pasar modal sendiri, kami melihat tren penguatan indeks harga saham gabungan ini diperkirakan akan terus berlanjut. Sementara pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pendanaan akan terus meningkat,” tutur Edi.

Edi mengatakan, hal itu dipicu oleh kebutuhan koperasi maupun UMKM akan sumber-sumber alternatif pembiayaan di pasar modal. Baik melalui penawaran umum maupun melalui layanan urun dana.

Kehadiran Unicorn di Pasar Modal RI

Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pasar modal Indonesia juga akan diramaikan dengan masuknya perusahaan-perusahaan unicorn yang telah dimulai dengan pencatatan saham Bukalapak sebagai listed company di BEI pada Agustus 2021.

"Antusiasme ini tentu akan berdampak positif ke pasar untuk tahun depan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Edi mengatakan penguatan peran investor domestik, inovasi penyediaan berbagai instrumen pembiayaan yang tepat sasaran, penyediaan infrastruktur pasar modal yang efektif efisien dan reliabel.

Serta dukungan tata kelola yang baik dan juga tidak kalah pentingnya adalah perlindungan investor yang memadai untuk perlu terus kita dorong agar perkembangan pasar modal Indonesia ke depan dapat terus terjaga.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel