OJK: Pandemi COVID-19 tingkatkan ketahanan pasar modal Indonesia

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menilai pandemi COVID-19 telah meningkatkan ketahanan pasar modal Indonesia yang saat ini telah mulai berangsur membaik dibandingkan kondisi saat awal pandemi melanda Tanah Air.

"Kini kita patut bersyukur, ujian pandemi telah meningkatkan ketahanan pasar modal kita. Pasar saham kembali stabil dan berangsur pulih, di mana IHSG kemarin ditutup di level 6.036,17 atau secara year to date terkoreksi 4,18 persen. Namun ini jauh membaik dengan mengalami kenaikan sebesar 53,7 persen dibandingkan level terendahnya pada 24 Maret lalu," ujar Wimboh saat penutupan perdagangan bursa 2020 di Jakarta, Rabu.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) pun, lanjut Wimboh, terus menguat, dengan imbal hasil atau yield turun 108 basis poin (year to date) dan memberikan imbal hasil yang masih menarik di antara negara-negara kawasan.

"Penurunan yield ini merupakan insentif bagi korporasi untuk menggalang dana lebih murah melalui penerbitan surat utang di pasar modal. Dengan dukungan rezim suku bunga rendah, saat ini merupakan momentum bagi kebangkitan pasar modal Indonesia," kata Wimboh.

Wimboh menuturkan pandemi yang terjadi hampir sepanjang 2020 tentunya tidak serta merta menyurutkan semangat para pelaku industri pasar modal untuk mengambil momentum dalam mencatatkan pencapaian yang mengindikasikan semakin dalamnya industri pasar modal nasional.

Di tengah arus dana keluar asing di pasar modal yaitu Rp47,89 triliun di pasar saham per 29 Desember 2020 kemarin dan Rp86,83 triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu, IHSG masih mampu menunjukkan penguatan yang didorong oleh investor domestik, termasuk investor ritel.

"Dari sisi demand, tahun 2020 menjadi tahun kebangkitan bagi investor ritel domestik, mengingat investor domestik khususnya investor ritel yang semakin mendominasi transaksi saham," ujar Wimboh.

Ia menambahkan pasar modal domestik juga tercatat semakin likuid dan dalam yang tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di ASEAN, kenaikan jumlah investor pasar modal menjadi 3,87 juta investor atau naik 56 persen dibandingkan tahun lalu, dan semakin solidnya dominasi investor ritel.

Di sisi suplai, antusiasme korporasi untuk menggalang dana melalui penawaran umum ternyata masih terjaga di masa pandemi, dimana terdapat 53 emiten baru sepanjang 2020. Dari jumlah tersebut 51 perusahaan telah tercatat di bursa dan hal ini menjadi yang tertinggi di ASEAN. Sementara total penghimpunan dana melalui penawaran umum di tahun 2020 telah mencapai Rp118,7 triliun.

Baca juga: OJK sebut invesor ritel bisa bantu ciptakan stabilitas pasar modal
Baca juga: OJK utamakan literasi agar masyarakat paham investasi di pasar modal
Baca juga: Inklusi naik, OJK perlu dorong penerbitan instrumen investasi baru