OJK paparkan perkembangan dan potensi besar keuangan digital Indonesia

·Bacaan 3 menit

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam kunjungan kerjanya di London memaparkan perkembangan dan potensi besar industri financial technology (fintech) dan keuangan digital Indonesia serta kebijakan keuangan berkelanjutan untuk mendukung kebijakan ekonomi hijau yang dijalankan Pemerintah Indonesia.

Menurut Wimboh, potensi keuangan digital Indonesia harus dioptimalkan dan diarahkan agar perkembangan fintech dan keuangan digital memberikan manfaat besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

"Potensi ekonomi digital Indonesia itu harus cepat dioptimalkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di kawasan dan di lingkungan global," ujar Wimboh dalam Forum Fintech Inggris – Indonesia yang digelar Global Indonesian Professionals' Association (GIPA), sebagaimana dalam rilis OJK yang diterima di Jakarta, Senin.

Hadir dalam pertemuan itu antara lain Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid, Chief Product & Network Officer Crown Agents Bank Steven Marshall, para pengusaha Indonesia dan beberapa investor asing.

Menurut Wimboh, untuk memanfaatkan potensi tersebut OJK terus berupaya membangun percepatan transformasi digital melalui pengembangan ekosistem ekonomi dan pembiayaan digital. Hal itu sejalan dengan potensi pengembangan industri ekonomi digital yang dimiliki Indonesia dari segi demografi maupun akses terhadap internet. Transformasi ekonomi digital diproyeksikan akan menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi yang membatasi mobilitas masyarakat.

Selain itu, sektor jasa keuangan juga harus menjawab kebutuhan konsumen untuk melakukan transformasi digital yang akan memberikan kemudahan dan layanan keuangan yang lebih cepat untuk masyarakat termasuk memperluas akses pembiayaan untuk pelaku UMKM.

Menurut Wimboh, industri fintech dan keuangan digital juga harus memberikan kemudahan dan memperluas akses bagi masyarakat unbanked dan pelaku UMKM untuk dapat menikmati produk dan layanan keuangan digital. OJK juga membuka peluang bagi perbankan untuk berkolaborasi dengan fintech dalam pengembangan bisnisnya.

Sejumlah program sudah disiapkan OJK seperti membangun ekosistem UMKM berbasis digital yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dalam aspek pembiayaan, OJK melibatkan perusahaan financial technology serta Fintech P2P Lending dan Securities Crowdfunding untuk memudahkan pelaku UMKM mendapatkan alternatif pembiayaan dengan syarat yang mudah.

Di bidang pemasaran, OJK terus melakukan pembinaan kepada UMKM dengan menggandeng perusahaan rintisan atau start-up dan universitas membangun Kampus UMKM yang memberikan pelatihan intensif agar UMKM bisa langsung on-boarding secara digital.

"Dengan semua program tersebut, kami berharap Indonesia memiliki basis pelanggan domestik yang kuat di bidang keuangan digital dan ekosistem ekonomi digital yang berkembang dengan baik. Dengan demikian, Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain di region," kata Wimboh.

Bersamaan dengan kunjungan kerja di London, Wimboh juga menghadiri Bloomberg Investor Meeting : Roundtable on Financing Indonesia’s Sustainable Energy and Transport di kantor pusat Bloomberg, akhir pekan lalu.

Acara itu bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai upaya dalam rangka mempercepat pembiayaan energi dan transportasi berkelanjutan Indonesia, dengan memanfaatkan momentum COP26 dan memperhatikan bahwa banyak negara telah berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2050-2060. Turut hadir dalam acara tersebut CEO Bloomberg New Energy Finance Jon Moore beserta jajaran, dan perwakilan Kadin.

"OJK memegang komitmen jangka panjang terhadap sustainable finance untuk memastikan kelancaran transisi menuju ekonomi rendah karbon. OJK terus mendukung komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Perjanjian Paris serta langkah negara untuk mencapai tujuan Net Zero Emission, termasuk Nationally Determined Contribution (NDC) dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS LCCR)," ujar Wimboh.

Wimboh menyampaikan komitmen OJK dalam mengakselerasi keuangan berkelanjutan melalui penerbitan Roadmap Keuangan Berkelanjutan pada 2015 - 2019 dan dilanjutkan pada tahap kedua tahun 2020 hingga 2024.

Sasaran strategis Roadmap Keuangan Berkelanjutan meliputi terciptanya ekosistem yang mendukung percepatan keuangan berkelanjutan, peningkatan pasokan dan permintaan dana dan instrumen keuangan yang ramah lingkungan, serta penguatan pengawasan dan koordinasi dalam penerapan keuangan berkelanjutan di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Bloomberg menyatakan kesiapannya mendukung OJK untuk meningkatkan kapabilitas SDM melalui kerja sama dengan Bloomberg New Energy Finance dalam bentuk riset dan pelatihan.

Baca juga: OJK berkomitmen dorong industri keuangan lebih kompetitif
Baca juga: OJK: Digitalisasi membantu pemerintah capai target inklusi keuangan
Baca juga: Presiden minta pembiayaan "fintech" untuk kegiatan produktif

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel