OJK: PDB RI 2030 bisa mencapai Rp24.000 triliun dengan ekonomi digital

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Teguh Supangkat memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa mencapai Rp24.000 triliun pada 2030 dengan pengembangan ekonomi digital.

“Ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh hingga mencapai Rp4.500 triliun di 2030 dan sektor e-commerce mendominasi pertumbuhan ekonomi digital sebesar Rp1.900 triliun atau 34 persennya,” kata Teguh dalam webinar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta bertajuk “Digitalisasi Perbankan Indonesia,” Kamis.

Pada 2030 berdasarkan Fintech and Digital Banking 2025 Asia Pacific, diperkirakan 40 persen masyarakat bankable akan melakukan direct onboarding, electronic KYC atau third party on boarding.

“Sebesar 25 persen dari pertumbuhan investasi akan diarahkan untuk pengembangan real time capabilities, seperti untuk marketing, fraud managements, dan untuk pembayaran,” imbuhnya.

Bank skala besar dan menengah diperkirakan akan tergabung dalam setidaknya 5 ekosistem gaya hidup dan bank juga diperkirakan akan meningkatkan hingga tiga kali lipat penggunaan big data dan artificial intelligence guna meningkatkan pengalaman nasabah.

Baca juga: OJK-Kemenkominfo sepakat perkuat digitalisasi sektor jasa keuangan

Adapun pada 2021 Bank Indonesia mencatat transaksi melalui SMS, ponsel, dan internet banking meningkat senilai Rp39,87 triliun atau 44,74 persen dibandingkan pada 2020.

“Volume transaksi digital perbankan pada 2021 mencapai 7,77 juta atau meningkat 56,67 persen dibandingkan 2020. Data ini menunjukkan terdapat peningkatan signifikan dari masyarakat untuk menggunakan sarana digital perbankan,” katanya.

Ia mengatakan transformasi digital perbankan akan terus berlanjut ke depan mengingat pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahun dan mencapai 212,35 juta orang atau 76,8 persen dari total populasi.

Rata-rata masyarakat di Indonesia menggunakan internet hingga 8 jam 52 menit per hari dengan kepemilikan ponsel mencapai mencapai 345,3 juta.

“Artinya ada masyarakat yang memiliki dua atau lebih ponsel. Ini merupakan potensi pasar yang cukup besar yang harus didukung dengan penggunaan teknologi digital baru seperti 5G dan cloud computing,” ujarnya.

Baca juga: OJK: Potensi ekonomi digital RI tertinggi di Asia Tenggara

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel