OJK Ramal BI Tak Mungkin Turunkan Suku Bunga Acuan Lagi

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meramal bahwa Bank Indonesia tidak akan lagi menurunkan suku bunga acuan lebih rendah dari suku bunga acuan yang ditetapkan saat ini.

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17-18 Februari 2021 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,50 persen.

Plt. Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia OJK Tony mengatakan, kondisi ini disebabkan sudah terbatasnya kebijakan moneter BI saat ini. Termasuk untuk kembali menurunkan suku bunga acuan.

"Saya juga enggak yakin apakah BI akan terus menurunkan suku bunga dia, kayaknya BI juga kebijakan moneternya Pak Juda (asisten Gubernur BI) sudah habis tuh kayaknya," kata dia dalam diskusi virtual, Rabu, 24 Februari 2021.

Tony menambahkan, ramalan ini didukung oleh adanya kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga Pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Bills yang terus terjadi. Sehingga, berpotensi menekan selisih imbal hasil.

"Kayaknya enggak mungkin lagi dia menurunkan dari sekarang 3,5 persen diturunin lagi. Bisa habis kita karena di AS sekarang justru treasury bond malah naik harganya," tegas Tony.

Bank Indonesia sendiri mengakui imbal hasil dari US Treasury Tenor 10 Tahun terus mengalami kenaikan. Saat ini, posisinya adalah 1,24 persen dan diperkirakan akan terus naik hingga akhir tahun ini ke posisi 1,34 persen.

Dampak dari rendahnya suku bunga acuan BI di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury, Tony menjelaskan, akan menyebabkan Surat Berharga Negara (SBN) dilepas oleh para investor global.

"Kita bisa lihat sekarang implikasinya ke surat berharga nasional kita itu dampaknya lihat saja harga FR (fix rate) kita turun semua sekarang karena suku bunga turun sementara di luar negeri suku bunga naik," tutur dia.

"Ini asing banyak yang lepas SUN-SUN (Surat Utang Negara) pemerintah banyak dilepas, karena mereka kabur balik lagi ke Treasury Bill AS," ujar Tony menambahkan.

Meski demikian, dia memastikan, dengan tren suku bunga acuan BI yang saat ini tetap rendah dan telah turun 225 basis point sejak Juni 2019, perbankan di Indonesia juga telah menurunkan suku bunga kredit dan deposito.

"Bisa kita lihat ketika BI mempertahankan suku bunganya tetap kita lihat perbankan akan terus berusaha turunkan suku bunga. Artinya perbankan tetap bergerak menyesuaikan suku bunga jadi memang mereka sudah hitung," ungkap Tony.