OJK Sebut Pembiayaan di Pasar Modal Lebih Tinggi dari Perbankan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendanaan melalui pasar modal pada 2021 lebih tinggi dari perbankan. Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menuturkan, capaian itu merupakan salah satu sejarah yang dicatat pasar modal pada 2021.

"Raising fund di pasar modal ini juga sejarah di Indonesia, bahkan lebih tinggi dari pembiayaan di perbankan yang tidak smapai Rp 3 triliun tahun ini,” ungkap Wimboh saat Peresmian Penutupan Perdagangan BEI Tahun 2021, Kamis (30/12/2021).

Penghimpunan dana di pasar modal tercatat Rp 358,4 triliun hingga 24 Desember 2021. Realisasi penghimpunan dana itu tertinggi sepanjang sejarah dengan emiten baru tercatat sebanyak 55 emiten. Penghimpunan dana ini mayoritas digunakan sebagai modal kerja.

Sementara fungsi intermediasi perbankan pada November 2021 tumbuh sebesar 4,82 persen yoy atau 4,17 persen ytd didorong peningkatan pada kredit UMKM dan ritel.

Sebelumnya OJK mencatat mayoritas sektor utama kredit perbankan mencatatkan kenaikan terutama pada sektor pengolahan dan rumah tangga masing-masing sebesar Rp 24,9 triliun dan Rp 9,1 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,48 persen yoy atau 9,98 persen ytd.

Di sektor IKNB, sektor asuransi berhasil menghimpun premi pada bulan November 2021 sebesar Rp 26,1 triliun dengan premi Asuransi Jiwa sebesar Rp 16,3 triliun, serta Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp 9,8 triliun.

Selain itu, Fintech peer to peer (P2P) lending pada November 2021 terus mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 106,6 persen yoy atau meningkat Rp 1,2 triliun atau Rp 13,8 triliun secara ytd. Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan tercatat relatif stabil pada level Rp 363 triliun.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Capaian Bursa Lainnya

Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bersamaan dengan itu, Wimboh juga mengapresiasi capaian Bursa lainnya, termasuk kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga kenaikan investor yang signifikan pada 2021.

"Bukan hanya indeksnya, tapi investornya mencapai 7 juta ini sejarah untuk Indonesia," kata Wimboh.

IHSG mencapai level 6.600,68 pada 29 Desember 2021, meningkat 10,4 persen dari posisi Desember 2020. Pertumbuhan IHSG tersebut bahkan sempat menembus rekor baru, yakni di level 6.723,39 pada 22 November 2021, melampaui IHSG sebelum terjadinya pandemi.

Sementara itu, kapitalisasi pasar pada 29 Desember 2021 mencapai Rp 8.277 triliun atau naik hampir 18 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2020 yakni Rp 6.970 triliun.

"Ini blessing juga, dalam masa pandemi, orang-orang belanjanya berkurang, sehingga banyak dimasukkan ke pasar modal. Digitalisasi transaksi dukung itu semua, sehingga investornya mencapai 7 juta," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel