Oknum ASN di Samarinda Berkomplot Palsukan Surat Vaksin dan Tes PCR

·Bacaan 2 menit

VIVA – Aparat Polres Kota Samarinda, Kalimantan Timur, mengungkap kasus pemalsuan surat keterangan kesehatan hasil tes polymerase chain reaction (PCR) dan kartu vaksinasi COVID-19 dengan menangkap sembilan orang sebagai tersangka.

Wakil Kepala Polres Kota Samarinda AKBP Eko Budianto Eko Budianto mengatakan, pengungkapan kasus itu berawal dari laporan seorang petugas Bandara APT Pranoto pada 29 Juli 2021 saat memeriksa surat keterangan perjalanan udara.

“Saat melakukan pemeriksaan terhadap saudari Hoiriyah, pelapor menemukan surat hasil PCR dan kartu vaksin yang diduga palsu. Mereka mengetahui karena petugas itu mengecek barcode, ternyata tidak terdata atau teregistrasi,” kata Eko Budianto dalam keterangan resmi di Samarinda, Rabu, 4 Agustus 2021.

Ia mengatakan, sembilan orang tersangka berlatar belakang dari berbagai profesi dan salah satunya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) alias pegawai pemerintahan.

"Para tersangka ini punya tugas masing- masing, namun setelah kita dalami otak pemalsuan yakni dua orang tersangka, yang berinisial RW dan SR yang bertugas menggandakan PCR dan kartu vaksin," kata Eko.

Sedangkan tersangka lainnya membantu menggandakan hasil tes itu, lalu ada juga yang bekerja mengumpulkan orang yang berkeinginan pergi ke luar kota. Para tersangka itu bertugas mengajak orang yang mau menggunakan kartu vaksin maupun hasil tes PCR melalui jasa mereka.

Setelah berhasil mengumpulkan orang, hasil tes diambil melalui format kosong dari salah satu puskesmas. Kemudian mereka langsung membuat format sendiri yang tentunya palsu.

Dari kejahatan itu, salah satu tersangka mendapatkan keuntungan dengan total sekitar Rp 5 juta dari 28 hasil pemalsuan yang terjual, dengan kisaran Rp200 ribu per lembar surat vaksin.

“Saat ini Polresta Samarinda menyita barang bukti berupa 7 lembar surat vaksin palsu, surat PCR 1 lembar, 1 kertas karton, uang tunai Rp3 juta, handphone 6 buah, pulpen, gunting, printer dan buku tabungan,” katanya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 263 sub Pasal 268 KUHP tentang Pemalsuan Surat dengan ancaman hukuman penjara selama 5 tahun. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel