Omah Asa dan Kadin Kolaborasi Lahirkan Entrepreneur Pesantren

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pergelaran Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung tak hanya memilih pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Tapi juga isu yang tak kalah penting, yakni entrepreneurship di kalangan pesantren.

"Pesantren tak cukup hanya mendidik ilmu agama untuk para santri. Pesantren harus juga mendidik santri menguasai ilmu ekonomi dan ilmu digital agar umat semakin berdaya dan sejahtera," kata Gus Miftah, Pengasuh Ponpes Ora Aji, Sleman, dalam pembukaan diskusi Forum Gus Discussion, kolaborasi Omah Asa bersama Kadin Indonesia dan Krakatau Steel di sela-sela Muktamar ke-34 NU di Lampung, Jumat (24/12/2021).

Bersama Ipang Wahid dan Atta Halilintar, Gus Miftah mendirikan Omah Asa, pusat kebajikan yang menginisiasi gerakan-gerakan kebaikan dan pemberdayaan umat.

Diskusi yang dihadiri sekitar 120 Gus-Gus (putra Kiai) dari seluruh Indonesia tersebut membahas beberapa topik aktual. Mulai dari UMKM, industri, digital marketing, hingga block chain dan crypto currency.

"Pesantren sekarang harus mampu bertransformasi menjadi basis kegiatan ekonomi produktif. Kita harus cerdas dan jeli mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi," kata Gus Ipang Wahid yang juga cicit pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari, sekaligus putra mendiang Gus Sholah.

Menjadi pembicara utama dalam diskusi tersebut, antara lain, Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid dan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.

Dalam sambutannya secara virtual, Menteri BUMN Erick Thohir menekankan pentingnya Pesantren diberdayakan secara ekonomi.

Sementara Arsjad Rasjid mengatakan, NU sebagai jam’iyah punya potensi yang sangat besar. Saat ini warga Nahdliyin kurang lebih mencapai 100 juta.

"Ini adalah ekosistem yang sangat masif untuk menciptakan kemandirian umat. Dan ini bisa kita konsolidasikan secara efektif hanya dengan digitalisasi," kata Arsjad.

Potensi tersebut, kata dia, mulai dari pemberdayaan ekonomi, UMKM, hingga dakwah.

"Kalau bisa menjadi basis kegiatan ekonomi produktif, pesantren bisa kita sinergikan dengan industri lokal di sekitar kawasan pesantren bersama dengan UMKM-nya," katanya.

Arsjad sangat menyayangkan jika pesantren hanya menjadi basis konsumsi produk-produk komersial. "Indonesia harus jadi bangsa produsen, dan pesantren harus menjadi salah satu motor penggeraknya," katanya.

Wirausaha Berbasis Pesantren

Karena itu, bersama Kadin Indonesia, Omah Asa mendorong gerakan entrepreneurship di pesantren. Selain menjadi lembaga pendidikan, pesantren harus juga menjadi lembaga bisnis dan digital.

"Ke depan harus muncul santri-santri pengusaha. Setiap pesantren akan menjadi episentrum ekonomi baru bagi daerahnya. Sentra bisnis ala pesantren ini tak hanya menghidupi pesantren, tapi juga ekonomi warga sekitarnya. Islam rahmatan lil alamin mewujud dalam sektor ekonomi," kata Gus Miftah.

Ipang Wahid menutup diskusi dengan tantangan kepada para gus yang hadir.

"Kadin Indonesia sudah akan memulai kolaborasi wirausaha berbasis pesantren. Panjenengan semua berani memulai nggak?" tutup Gus Ipang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel