Operasi Bentall Tindakan Medis Tersulit Pasien Gangguan Aorta, Kini Bisa Dilakukan di Indonesia

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Menurut CDC, aneurisme aorta menyebabkan 9.923 kematian pada tahun 2018 dan sekitar 58% kematian karena aneurisme aorta atau diseksi aorta terjadi pada pria.

NCBI (National Center for Biotechnology Information) melaporkan bahwa insidens terjadinya diseksi aorta adalah 5-30 kasus per satu juta orang, dengan rentang usia 40-70 tahun. Aorta adalah bagian terbesar dari pembuluh darah arteri yang memanjang dari jantung hingga keperut bawah.

Robeknya aorta bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) dan tidak menimbulkan gejala. Tetapi, bila dalam dua hingga tiga jam tidak segera dilakukan tindakan medis operasi, penderita akan meninggal. Diseksi aorta dan aneurismaaorta tidak dapat dibedakan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik, sehingga pemeriksaan penunjang seperti CT scan sangat diperlukan. Kecepatan dan ketepatan dokter spesialis jantung dalam mendiagnosis diseksi aorta, menentukan keselamatan pasien.

Faktor penyebab diseksi aorta antara lain, riwayat keluarga, hipertensi, naiknya tekanan darah secara mendadak, riwayat aneurisme aorta, artherosklerosis ataupun kelainan genetic (sindroma Marfan).

dr. Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV(K)FIHA, FICASub spesialisasi Bedah Thoraks dan Kardiovaskular mengatakan berdasarkan kondisinya, ada dua jenis aorta yang robek: tipe A dan tipe B. Yang paling berbahaya dan mematikan adalah tipe A, sebab, bagian aorta yang robek ada pada pangkalnya yang menempel ke serambi jantung atau yang disebut dengan aorta asendens. Penanganannya juga harus melalui tindakan medis operasi.

Beda dengan tipe B, yang umumnya bisa diatasi dengan obat atau dengan intervensi endovaskular. Pada tipe yang lebih rumit, mungkin memerlukan kombinasi berupa bedah dan endovascular yang dapat dilakukan di OK/Cathlab Hybrid yang tersedia di Heartology Cardiology Vascular.

Di bagian tengahnya, aorta asendens memiliki tiga cabang arteri. Bagian yang bercabang itu dikenal dengan nama aorta arch. Pada kasus diseksi tipe A, dua jenis aorta itulah yang robek parah sehingga perlu diganti dengan graft dari bahan dakron. Operasi penggantian aorta arch itu disebut dengan operasi Hemiarch Aorta Replacement. Mengganti aorta asendens arch tak semudah mengganti katup atau pembuluh darah koroner. Sebab, untuk menggantinya, kondisi pembuluh darah tersebut harus benar-benar ”bersih” dari darah.

"Dengan demikian, ahli bedah bisa melihat dengan jelas seberapa panjang yang perlu diganti. Selain itu juga supaya proses penyambungan dan pemotongannya bisa sempurna. Dengan begitu, setelah graft disambungkan, darah bisa kembali mengalir dengan sempurna. Masalahnya adalah bagaimana ”mengeringkan” bagian itu lantaran fungsinya sebagai pengantar darah bersih. Apakah tidak cukup dengan mengelap hingga kering bagian yang akan dipotong dan disambung itu? Ternyata tidak sesederhana itu," ujarnya.

Operasi Bentall

Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon
Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon

dr Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV (K), salah satu yang akan direkomendasikan dalam permasalah penyakit tersebut melakukan operasi Bentall. Tindakan ini dilakukan pada jenis aorta yang robek pada pangkal yang menempel ke serambi jantung atau yang disebut dengan aorta asende.

Mulanya, sebelum dipotong, fungsi jantung dan paru-paru digantikan mesin heart lung (pengganti fungsi jantung dan paru-paru). Bersamaan dengan itu, suhu badan pasien juga mulai diturunkan secara perlahan hingga mencapai titik yang nyaris terendah bagi seorang manusia. Yakni 24-26 derajat celsius atau separo temperatur tubuh manusia normal.Penurunan suhu badan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi aktivitas otak.

Dengan aktivitas yang rendah, otak tak membutuhkan banyak darah. Setelah suhu mencapai derajat yang dibutuhkan, darah pun mulai ”dikuras” dari tubuh. Artinya, aliran darah ke liver, ginjal, paru, apalagi jantung, usus, dan otot dihentikan. Tetapi, aliran darah ke otak tidak boleh ikut berhenti. Otak harus tetap dialiri darah. Kalau sampai terhenti, pasien meninggal atau koma. Tetapi, karena aktivitasnya sudah diturunkan, kebutuhan darah di otak tidak banyak lagi. Detik-detik selama tubuh tidak dialiri darah itu merupakan bagian yang paling menegangkan dan berisiko dalam operasi Bentall. Sebab, penghentian aliran darah ini tidak boleh lebih dari 40 menit.

Setelah semua proses pembenahan bagian-bagian yang robek selesai, tim harus menghangatkan kembali suhu badan pasien. Dan itu harus dilakukan secara perlahan serta sangat hati-hati, agar aman bagi pasien. Aliran darah harus dikembalikan sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya, seluruh proses operasi tersebut memakan waktu hingga delapan jam.

Operasi Bentall, seperti operasi aorta lainnya, termasuk salah satu operasi tersulit di dunia, sehingga memerlukan banyak persiapan. Keahlian tim dokter, tim pendukung dan ketersediaan tehnologi merupakan kunci keberhasilan operasi Bentall dan penggantian hemiarch. Heartology Cardiovascular Center memiliki kemampuan untuk melakukan operasi Bentall dan penggantian hemiarch, karena adanya perpaduan tim medis dan teknologi mutakhir.

#changemaker