Operasi Hybrid Pertama di Indonesia Sukses Dilakukan Pada Perempuan 68 Tahun, Berikut Tahapannya

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Seorang pasien, perempuan, usia 68 tahun, memiliki keluhan nyeri dada, sesak napas dan memiliki riwayat stroke. Hasil CT-scan menunjukkan kombinasi diseksi aorta dengan robekan dari pangkal aorta jantung hingga ke aorta di perut.

Robekan yang ada menimbulkan gejala nyeri dada mirip dengan serangan jantung. Robekan juga melibatkan cabang aorta yang menuju pembuluh darah ke otak sehingga gejala yang muncul menyerupai stroke.

Dari hasil diskusi tim Dokter Heartology yang terdiri dari Dokter Jantung dan Bedah Jantung, diputuskan untuk melakukan Operasi Hybrid. Heartology Cardiovascular Center pun berhasil melakukan operasi hybrid pertama di Indonesia tersebut.

"Operasi Hybrid adalah kombinasi operasi terbuka dan intervensi aorta yang dilakukan secara bersamaan. Operasi ini dapat dilakukan karena tersedianya tehnologi canggih dan tim dokter berpengalaman yang mempunyai rekam jejak yang telah terbukti,” papar Dr Dicky Aligheri Wartono yang memimpin operasi hybrid pertama di Indonesia ini dalam keterangan persnya.

Dr. Dicky mengatakan operasi Hybrid tersebut terdiri daritiga prosedur. Pertama Total Arch Replacement merupakan penggantian bagian aorta ascenden dan arcus aorta dengan menggunakan prostetic graft (graft buatan).

Kedua Elephant Trunk, yaitu pemasangan graft untuk mempermudah prosedur stenting selanjutnya. Terakhir Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEVAR) merupakan pemasangan stent graft pada descending aorta.

Langkah-langkah operasi Hybrid

Operasi Hybrid Pertama di Indonesia/dok. Heartology
Operasi Hybrid Pertama di Indonesia/dok. Heartology

Langkah pertama dilakukan, bius umum (general anesthesi) merupakan strategi pembiusan yang wajib dilakukan pada prosedur ini. dr. Anas Alatas, SpAn-KAKV (Dokter Anesthesi Kardiovaskular) dan tim, melakukan induksi/pembiusan harus dengan akurasi yang sangat tinggi, antara lain karena kesalahan dosis sedikit saja, dapat meyebabkan komplikasi yang bermakna untuk pasien ini.

Lalu, TEE (Transesophageal Echocardiography) yang dilakukan dr BRM Ario Kuncoro, SpJP(K) (Dokter Jantung) untuk untuk menilai strukturjantung termasuk katup, fungsi jantung, memantau kondisi katup selama dan sesudah operasi, memantau fungsi jantung selama operasi dan menilai penumpukan cairan di selaput jantung maupun selaput paru. TEE akan menilai keterlibatan katup atau kelainan lain, yang tidak secara langsung berkaitan dengan diseksi aorta yg bisa mengubah strategi prosedur tindakan

Kemudian pembedahan Dipimpin oleh dr Dicky Aligheri SpBTKV, pembedahan dilakukan dengan tim sejumlah 10 staf ahli.Dilakukan sayatan membuka rongga dada, dan menghubungkan heart lung machine dengan tubuh pasien sehingga, jantung dan paru dapat diistirahatkan selama operasi yang berjalan sekitar 5-6 jam.

Serta TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Repair) oleh dr Suko Adiarto, SpJP dan tim melakukan pemasangan stent graft pada descending aorta untuk menutup robekan, yang pada kasus ini meluas hingga descending aorta. Dan yang terakhir paska PembedahanSeluruh pasien yang mengalami pembedahan jantung, harus dirawat di perawatan intensif sekitar 4-5 hari tergantung beratnya kasus dan rumitnya prosedur yang dilakukan.

Dr Dafsah Juzar,SpJP(K) dan tim, melalukan pemantauan hemodinamik, perdarahan, fungsi nafas, kesadaran, fungsi ginjal dan fungsi tubuh lainnya, secara seksama dari menit ke menit untuk meyakinkanbahwa pasien terawasi dengan baik.

#elevate women