OPINI: COVID-19 dan Pariwisata Dunia

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta COVID-19 masih menjadi masalah utama dunia sekarang ini, dan terus terang kita belum tahu pasti kapan akan berakhir. Sepanjang tahun 2020 berbagai sendi kehidupan terdampak berat akibat pandemi ini, sebagian malah praktis berhenti.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang praktis lumpuh di berbagai belahan dunia ini. Dengan berkembangnya waktu, berbagai pihak -termasuk turisme- mulai mencoba mencari celah untuk dapat memulai kegiatannya sambil tetap mengutamakan aspek kesehatan.

Di satu sisi memang ada kekawatiran penularan penyakit meluas kalau ada hilir mudik dan kerumunan orang untuk berwisata, tapi di sisi lain nampaknya ada juga peluang yang mungkin dijajaki.

Pariwisata di Asia

Kita lihat cukup banyak negara mulai membuka diri untuk kegiatan wisata. Dalam beberapa hari ini tetangga kita, Thailand misalnya, akan mempersingkat masa karantina turis asing dari 14 menjadi 10 hari, bagi wisatawan yang datang dari negara berisiko rendah COVID-19. Bahkan, selama masa karantina itu khabarnya wisatawan asing akan dapat menikmati hidangan khas, pelayanan spa ala Thailand dan berolah raga, dengan pengawasan otoritas kesehatan setempat.

Kemudahan juga diberikan bagi pasien yang akan menjalani pemeriksaan dan pengobatan dalam rangka wisata kesehatan (medical tourism). Jumlah wisatawan yang diizinkan masuk ke Thailand juga terus dinaikkan secara bertahap. Mula-mula 200 orang per hari, tapi seiring membaiknya situasi naik menjadi 500 per hari, dan sekarang menjadi 1.000 per hari.

Negara Asia lain punya kebijakan yang berbeda-beda terkait pariwisata. Dikabarkan bahwa sejak September, China mulai membolehkan pengunjung dari 8 negara untuk masuk negara itu, tapi tetap harus menjalani tes dan karantina. Sementara, Malaysia diberitakan mungkin akan mulai mempertimbangkan kunjungan pasien dalam kerangka wisata medis.

Jepang juga sedang mempertimbangkan untuk membuka kunjungan warga dari Singapura, Vietnam, Thailand, Australia, New Zealand, Taiwan, Korea Selatan dan China. Jepang mula-mula akan memberi prioritas bagi kunjungan bisnis, pelajar/mahasiswa dan baru kemudian untuk wisatawan. Jepang mensyaratkan hasil PCR negatif paling lama 72 jam sebelum mendarat dan karantina selama 14 hari.

Hawaii dan Maldives

Hawaii, Amerika Serikat (Dok.Unsplash)
Hawaii, Amerika Serikat (Dok.Unsplash)

Hawaii yang juga “surga wisata” menerapkan kebijakan baru untuk pariwisata, sesudah cukup lama terpukul. Sejak 15 Oktober 2020 para turis tertentu yang datang ke Hawaii tidak harus menjalani 14 hari karantina lagi, asal memang hasil COVID-19-nya negatif. Hanya saja semua turis tetap harus patuh aturan setempat untuk menggunakan masker dan jaga jarak.

Sebagian pantai dan taman di Hawaii dibuka untuk wisatawan dengan penerapan protokol kesehatan, dan tentunya terlihat jauh lebih sepi dari era sebelum COVID-19. Tempat wisata lain serta tempat belanja juga membatasi pengunjung dan hanya dapat diisi sekitar 50 persen kapasitas.

Hawaii juga menerapkan skema yang menarik, semacam algoritma kesehatan tentang apa yang harus dilakukan calon wisatawan sebelum berangkat. Ada 4 kategori, dasarnya adalah tes COVID-19 dalam 72 jam sebelum mendarat. Kategori pertama yang hasil tesnya negatif, kategori ke dua yang hasil tesnya masih ditunggu, kategori ke tiga mereka yang belum dites di tempat keberangkatannya dan kategori ke empat yang hasil tesnya positif.

Maldives (Maladewa) merupakan salah satu negara yang amat serius menangani pariwisata di masa COVID-19 ini, karena turisme memang roda amat penting negara ini. Ada beberapa hal menarik yang dapat kita pelajari. Tentu kita tahu bahwa Maldives terdiri dari banyak sekali pulau-pulau kecil, disebut sebagai atol. Bandara juga ada pada satu pulau tersendiri, berbeda pulau dengan ibu kota negara. Lalu, resort tempat wisatawan ada di berbagai pulau yang ada. Satu pulau hanya terdapat satu resort wisata saja, dan tidak ada penduduk lokal yang tinggal di pulau itu, yang ada hanya turis dan pekerja resort.

Jadi, turis akan mendarat di pulau yang ada bandaranya, tidak perlu karantina, lalu langsung dengan kapal atau pesawat albatros (yang bisa mendarat di air) akan menuju ke resort yang dipilihnya di salah satu pulau. Begitu wisatawan tiba, maka proses check in dibuat amat sederhana dan cepat sehingga tidak ada kerumunan orang di lobi resepsionis. Lalu turis akan langsung diantar ke vila masing-masing.

Di resort memang tidak ada hotel bertingkat, yang ada adalah villa-villa di pinggir pantai dan/atau dibangun di atas laut dengan lantai kaca ke laut. Lalu kegiatan sehari-hari dilakukan di villa itu saja, petugas resort akan datang melayani tamunya.

Salah satu paket yang ditawarkan adalah “work from `home` with ocean view” atau bekerja dari "rumah" dengan pemandangan pantai. Jadi tamu disiapkan kursi dan meja di pantai pasir di depan villanya, menghadap ke laut lepas, dengan jaringan wi-fi yang kuat sehingga tamu bisa kerja dengan nyaman. Suasana tersebut ditawarkan untuk “membunuh kebosanan” kerja dari rumah di negara masing-masing yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan lamanya.

Maldives atau Maladewa. (dok.Instagram @visit_maldives/https://www.instagram.com/p/BitG9NyFR8p/Henry
Maldives atau Maladewa. (dok.Instagram @visit_maldives/https://www.instagram.com/p/BitG9NyFR8p/Henry

Seluruh pekerja resort tinggal di pulau yang sama, tentu semua dijamin PCR negatif. Pelayanan kesehatan tentu tersedia di pulau resort, termasuk juga fasilitas Alat Pelindung Diri (APD) apapun jenis yang diperlukan. Yang juga menarik adalah jabatan “COVID-19 safety manager”, yang tentunya belum pernah ada dalam sejarah pariwisata di dunia.

Untuk memudahkan penulusuran kontak bila nantinya diperlukan maka wisatawan diharapkan mengunduh aplikasi kesehatan khusus yang bernama “Trace Ekee”. Para turis juga sudah harus mengirimkan secara elektronik deklarasi kesehatan (Traveller Health Declaration) dalam 24 jam sebelum berangkat ke Maldives, serta sudah ada hasil PCR negatif 96 jam sebelum berangkat. Semua wisatawan akan dapat visa on arrival untuk tinggal selama 30 hari di Maldives, dan lama tinggal ini dapat diperpanjang dengan prosedur yang tidak berbelit.

Informasi yang diberikan pada calon wisatawan juga amat lengkap. Untuk kesehatan, secara jelas disampaikan di website, apa yang perlu dilakukan sebelum berangkat, selama di penerbangan, sewaktu mendarat di Bandara Maldives, selama dalam perjalanan ke resort di pulau, selama berkegiatan wisata di pulau dan prosedur kesehatan ketika akan meninggalkan Maldives. Tentu juga disampaikan data situasi epidemiologi COVID-19 di Maldives yang diperbarui dari waktu ke waktu, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang ada kalau-kalau sekiranya diperlukan.

Di luar aspek kesehatan, pada akhir September pemerintah Maldives meluncurkan “Maldives Border Miles”, suatu loyalty program semacam frequent flyer yang dikeluarkan maskapai penerbangan. Para wisatawan yang berkunjung ke negara ini akan dapat poin untuk jumlah dan hari kunjungannya, dan nanti poin dapat ditukar dengan fasilitas wisata yang ada. Ada 3 kategori kepesertaan, Aida (perunggu), Antara (perak) and Abaarana (emas).

Persiapan Rinci

Pemerintah sepakat Toraja resmi masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ke-11 menyusul 10 destinasi wisata Indonesia lainnya. (Foto: indonesiatravelingguide.com)
Pemerintah sepakat Toraja resmi masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ke-11 menyusul 10 destinasi wisata Indonesia lainnya. (Foto: indonesiatravelingguide.com)

Keputusan membuka pintu pariwisata di masa pandemi COVID-19 tentu bukan hal yang sederhana. Perlu amat banyak pertimbangan, dan mungkin menundang berbagai protes pula. Tentu situasi epidemiologi suatu negara atau daerah harus jadi pertimbangan utama. Di sisi lain, aspek ekonomi, sosial dan juga bahkan optimisme politis perlu dapat perhatian pula.

Kalau sesudah melakukan berbagai kajian amat matang dari semua sisi maka kemungkinan pariwisata mulai akan dibuka, maka perlu dilakukan persiapan amat rinci dan profesional agar prosedur kesehatan serta aspek kesehatan masyarakat dapat terjamin dengan paripurna.

Penulis

Prof Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Paru FKUI. Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Infografis Liburan Aman

Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini