Oposisi - Pesawat Suriah serang pasar di wilayah pemberontak, 15 tewas

BEIRUT (AP) - Pesawat tempur pemerintah Suriah menyerang pasar dan kawasan industri Rabu di wilayah terakhir di tangan kelompok pemberontak di barat laut negara itu, menewaskan sedikitnya 15 orang, kata aktivis oposisi.

Sebuah kesepakatan penghentian permusuhan antara Rusia dan Turki, yang mendukung pihak-pihak yang berseberangan dalam konflik, mulai berlaku minggu lalu. Namun kekerasan terus berlanjut.

Yahya Abu al-Yaman, seorang sukarelawan dengan responden pertama Pertahanan Sipil Suriah, mengatakan 15 orang tewas dan 65 lainnya terluka dalam serangan itu. Sebagian besar kini dalam kondisi kritis setelah pesawat tempur menghantam pasar sayuran dan kawasan industri di kota Idlib, Rabu sore. Kedua tempat itu hanya terpisah beberapa ratus meter.

Pertahanan Sipil Suriah, juga dikenal sebagai Helm Putih, mengatakan salah satu relawannya tewas dalam serangan itu.

Lembaga Syrian Observatory for Human Rights yang berpusat di Inggris mengatakan kedua daerah itu penuh sesak dengan orang-orang ketika pesawat tempur menyerange. Jumlah korban tewas 15 orang.

Observatory mengatakan serangan udara juga dilaporkan terjadi di bagian lain provinsi Idlib, mencatat setidaknya 42 serangan Rusia dan 33 oleh pesawat tempur pemerintah. Observatory memiliki jaringan aktivis di lapangan dan telah memantau perang di Suriah sejak dimulai pada 2011.

Pemerintah juga meluncurkan beberapa bom barel dari helikopter di pedesaan Idlib, menurut Observatory. Bom-bom tersebut berisi proyektik yang belum sempurna dan tidak akurat yang menyebabkan kehancuran besar-besaran.

Rusia adalah pendukung utama Presiden Suriah Bashar Assad, sementara Turki adalah pendukung kuat beberapa pemberontak yang berperang melawannya. Moskow menyalahkan pemberontak karena melanggar gencatan senjata Sabtu.

Idlib dikendalikan oleh kelompok pemberontak bersenjata, termasuk kelompok oposisi yang didukung Turki dan militan yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda yang merupakan yang terkuat di sana. Idlib juga rumah bagi 3 juta warga sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan setidaknya 300.000 orang terlantar akibat kekerasan dalam sebulan antara 1 Desember dan 1 Januari.

Jurubicara PBBU Stephane Dujarric Rabu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa badan dunia itu semakin khawatir atas keselamatan warga sipil.

"PBB mendesak semua pihak, dan mereka yang memiliki pengaruh atas pihak-pihak itu, untuk memastikan perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil, sesuai dengan kewajiban mereka di bawah hukum kemanusiaan internasional," katanya.

Badan internasional yang bertanggung jawab untuk mengirimkan sebagian besar bantuan kepada Idlib itu, telah memperingatkan akan meningkatnya risiko bencana kemanusiaan ketika orang-orang melarikan diri dari pertempuran menuju perbatasan Turki.

Gencatan senjata telah gagal menghentikan kekerasan. Serangan pemerintah yang dimulai bulan lalu tampaknya bertujuan membuka kembali jalan raya yang menghubungkan ibukota Damaskus dengan kota utara Aleppo, kota terbesar di wilayah utara Suriah. Jalan raya telah ditutup di Idlib sejak 2012, ketika pemberontak merebut beberapa kota di sepanjang rute.