Opsi Belajar Tatap Muka Sesudah Siswa Divaksin, IDI: Tetap Waspadai Varian Delta

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Adanya opsi belajar tatap muka dibolehkan jika seluruh siswa sudah mendapat suntikan vaksin COVID-19. Meski begitu Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengingatkan untuk tetap mewaspadai varian Delta.

Hal tersebut melihat penularan varian Delta terhadap efektivitas vaksin COVID-19 yang digunakan. Dari studi terbaru, vaksin COVID-19 yang digunakan saat ini mungkin tidak seefektif melawan varian Delta dibandingkan dengan jenis virus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19 yang pertama kali muncul.

"Vaksinasi memang mencegah orang untuk tidak meninggal kalau terinfeksi. Namun, tetep saja ada yang meninggal, sehingga perlindungannya tidak 100 persen ketika terinfeksi," jelas Zubairi saat dihubungi Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Jumat (20/8/2021).

"Efektivitasnya (vaksin) turun drastis begitu ada varian Delta. Turunnya drastis sekali. Efektivitas Pfizer sekarang di bawah 50 persen. Moderna juga turun, tapi masih 76 persen efektivitasnya."

Di Amerika Serikat, vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin Pfizer dan Moderna pun tak luput dari peningkatan kasus COVID-19. Masyarakat yang sudah divaksinasi lengkap dua dosis dilaporkan ada yang terinfeksi COVID-19, bahkan meninggal.

"Kalau dilihat vaksin di Amerika sangat efektif. Ternyata dengan adanya varian Delta, orang yang terinfeksi per hari lebih dari 100.000 sekarang ini. Sebelumnya, (kasus COVID-19) Amerika sudah turun banget, sekarang malah naik lagi jumlah kasus baru Corona setiap minggunya," terang Zubairi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Tetap Hati-hati Penularan Varian Delta

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Selasa (23/3/2021). Di dalam kelas, mereka duduk di kursi yang sudah diatur jaraknya untuk meminimalkan risiko penularan virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Selasa (23/3/2021). Di dalam kelas, mereka duduk di kursi yang sudah diatur jaraknya untuk meminimalkan risiko penularan virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Zubairi Djoerban memberikan contoh, Amerika sudah memvaksinasi lebih dari 166 juta orang. Mereka sudah divaksinasi dua dosis. Data ini sampai 9 Agustus 2021.

"Dari 166 juta yang tervaksinasi, ternyata laporan masuk dari 49 negara bagian, ada 8.054 yang sudah divaksin itu terinfeksi COVID-19 dan dirawat di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sebagian meninggal," paparnya.

"Yang meninggal totalnya 1.587 dari yang sudah divaksinasi dosis lengkap tadi."

Peningkatan kasus COVID-19 di Amerika ini dipengaruhi adanya varian Delta. Varian Delta menurunkan efektivtas dari vaksin Pfizer maupun Moderna. Potensi penularan varian Delta masih bisa terjadi.

"Dengan kata lain, kalau semua siswa sudah divaksinasi, tentu risiko terjadi penularan antar siswa turun. Tetapi kita tidak bisa harapkan (penularannya) nol. Tetap bisa terjadi penularan dan harus hati-hati," imbuh Zubairi.

Efektivitas Vaksin COVID-19 Turun Lawan Varian Delta

Tenaga kesehatan menyiapkan booster vaksin virus corona COVID-19 Pfizer-BioNTech untuk tenaga kesehatan di Rumah Sakit Bangkok Metropolitan Administration General, Bangkok, Thailand, Selasa (10/8/2021). Kasus COVID-19 di Thailand mencapai 736.522 kasus sejak awal pandemi. (AP Photo/Sakchai Lalit)
Tenaga kesehatan menyiapkan booster vaksin virus corona COVID-19 Pfizer-BioNTech untuk tenaga kesehatan di Rumah Sakit Bangkok Metropolitan Administration General, Bangkok, Thailand, Selasa (10/8/2021). Kasus COVID-19 di Thailand mencapai 736.522 kasus sejak awal pandemi. (AP Photo/Sakchai Lalit)

Para peneliti Mayo Clinic di Minnesota, Amerika Serikat menemukan, vaksin Pfizer-BioNTech hanya 42 persen efektif melawan infeksi COVID-19 varian Delta pada Juli 2021, sedangkan vaksin Moderna hanya 76 persen efektif.

Membandingkan tingkat infeksi antara individu yang divaksinasi penuh dengan mRNA-1273 (vaksin Moderna) versus BNT162b2 (vaksin Pfizer) di seluruh Mayo Clinic di beberapa negara bagian (Minnesota, Wisconsin, Arizona, Florida, dan Iowa), tulis para peneliti dalam penelitian tersebut.

mRNA- 1273 memberikan penurunan risiko dua kali lipat terhadap infeksi varian Delta dibandingkan dengan BNT162b2.

Studi terbaru, yang belum ditinjau (peer reviewed) ini, melacak efektivitas vaksin berbasis mRNA antara Januari dan Juli 2021. Selama penelitian di Minnesota, vaksin Moderna 86 persen efektif melawan infeksi COVID-19, sedangkan vaksin Pfizer 76 persen efektif.

Keduanya juga sangat efektif mencegah pasien rawat inap (Moderna 91,6 persen, Pfizer 85 persen), masuk ICU (Moderna 93,3 persen, Pfizer 87 persen), dan kematian akibat COVID-19 (tidak ada kasus yang ditemukan selama penelitian), sebagaimana dilansir Asianet Newsable.

Studi yang diterbitkan di medRxiv.org--belum ditinjau (reviewed)- tim mengumpulkan data pada cukup 25.000 warga Minnesota dari Januari hingga Juli 2021. Vaksin tetap efektif sekitar 90 persen, tetapi mulai menurun pada bulan Juni, lalu sebagian besar (efektivitas) turun pada Juli karena varian Delta.

Infografis Pfizer vaksin mRNA Covid-19

Infografis Pfizer vaksin mRNA Covid-19
Infografis Pfizer vaksin mRNA Covid-19
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel