Optimisme Hadapi Krisis Perubahan Iklim, Bersiap untuk Masa Depan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Naiknya suhu Bumi akan mempengaruhi seluruh kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Tercatat bahwa perubahan iklim telah berdampak pada manusia dan alam, seperti kesehatan, ketahanan pangan, perubahan kondisi pesisir dan laut, belum lagi implikasi sosial ekonomi sebagai akibatnya.

Isu perubahan iklim dunia ini turut dibahas dalam diskusi Global Town Hall pada Jumat 20 November 2020. Acara ini diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Dalam diskusi bertajuk "Catching Up With Climate", turut menghadirkan beberapa panelis untuk saling menuangkan argumentasi mereka dalam isu penting ini.

Para panelis terdiri dari Anggota DPR RI Dyah Roro Esti Widya Putri, Juara Aksi Iklim Tingkat Tinggi pemerintah Inggris Nigel Topping, Direktur Eksekutif Observatorium Manila Antonio La Vina dan Kepala Petugas Perkembangan Keberlanjutan kota Singapura Esther An.

Diskusi sesi ini memanas saat moderator melempar pertanyaan seputar optimisme menghadapi masalah perubahan iklim dunia. Semua panelis menjawab dengan optimis, kemudian mereka mulai memaparkan argumentasi mereka mengenai optimisme tersebut.

Nigel Toping mengatakan bahwa dirinya merasa optimistis karena melihat banyak momentum yang dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Persoalan ini telah diteliti dan ditangani oleh banyak universitas serta komunitas yang ada di seluruh dunia.

"Presiden terpilih Joe Biden, saya yakini akan memberi perhatian pada Perjanjian Paris. Kita akan mendapat momentum ke depannya," imbuhnya.

Penanganan Perubahan Iklim di Indonesia, Singapura dan Filipina

Ilustrasi perubahan iklim (AFP)
Ilustrasi perubahan iklim (AFP)

Esther An yang mewakili Singapura mengatakan bahwa Singapura telah melakukan berbagai program dalam menghadapi masalah perubahan iklim.

"Kami telah merencanakan dan menjalankan beberapa program yang berkaitan dengan permasalahan iklim di Singapura. Semua sektor telah bersinergi untuk menghapi hal ini, dan kami sudah memulainya sejak bulan Juli tahun 2018," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa program-program yang telah ada bukan hanya ditujukkan untuk menghadapi masalah yang terjadi saat ini. Namun juga sebagai persiapan untuk menghadapi apa yang terjadi di masa depan.

Sedangkan, Dyah yang mewakili Indonesia mengatakan bahwa Indonesia telah membawa semangat "gotong royong" dalam menghadapi hal tersebut.

"Kami telah membuat komitmen dalam menghadapi krisis iklim dengan merepresantikan Perjanjian Paris ke dalam undang-undang negara. Kami berharap langkah yang telah ditempuh dapat bermanfaat ke depannya, kami juga mengembang energi yang selalu bisa diperbaharui," katanya.

Dyah juga menyampaikan bahwa tujuan akhir dari langkah itu adalah untuk menarik investasi masuk ke Indonesia. Sedangkan Antonio yang mewakiliki Filipina, menyampaikan bahwa Filipina terus melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dalam menghadapi masalah perubahan iklim.

Reporter: Ruben Irwandi

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: