Orang Dekat Lingkaran Putin Akui Campur Tangan Rusia di Pemilu AS

Merdeka.com - Merdeka.com - Yevgeny Prigozhin, salah satu orang yang berada di dalam lingkaran Presiden Rusia, Vladimir Putin tampaknya mengakui Rusia selalu campur tangan pada pemilu Amerika Serikat (AS).

"Pengakuan" itu dilakukannya setelah dia ditanya oleh seorang jurnalis terkait kemungkinan campur tangan Rusia dalam pemilihan kongres AS atau mid-term election.

"Saya akan menjawab Anda dengan sangat halus, dan dengan hati-hati dan saya minta maaf, saya akan membiarkan ambiguitas tertentu. Tuan-tuan, kami ikut campur, kami ikut campur dan kami akan ikut campur," jelas Prigozhin, dikutip dari CNN, Selasa (8/11).

"Dengan hati-hati, tepat, melalui pembedahan dan dengan cara kami sendiri, seperti yang kami tahu caranya. Selama operasi tepat kami, kami akan mengangkat masalah vital sekaligus," lanjutnya.

Kalimat yang ditulis Prigozhin seolah-olah menunjukkan Rusia telah dan akan terus mengintervensi (ikut campur) dalam proses berjalannya demokrasi AS.

Meski Prigozhin sendiri tidak memiliki jabatan dalam pemerintahan Rusia, namun ungkapannya adalah pengakuan pertama dari orang yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Putin.

Hingga kini berbagai pihak belum mengetahui apakah Prigozhin serius mengenai intervensi Rusia atau hanya menulis kalimat sarkastis (mengejek).

Tetapi komentar yang ditulis oleh pendiri Wagner Group (organisasi tentara bayaran) tetap dianggap serius pemerintah AS. Campur tangan Rusia bukan lagi hal baru bagi beberapa pejabat AS.

“Pengakuan penuhnya, jika ada, tampaknya hanya manifestasi dari impunitas yang dinikmati penjahat dan kroni di bawah Presiden Putin dan Kremlin,” jelas juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price.

Hal senada juga dinyatakan juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre.

“Kita juga tahu bahwa bagian dari upaya Rusia termasuk mempromosikan narasi yang bertujuan merusak demokrasi dan menabur perpecahan dan perselisihan. Tidak mengherankan Rusia akan menyoroti upaya mereka dan mengarang cerita tentang keberhasilan mereka pada hari pemilihan,” jelas Jean-Pierre.

Sebelumnya beberapa kalangan di dalam pemerintah AS, terutama dari Partai Demokrat, kerap menuding Rusia mengintervensi pemilu AS pada 2016 lalu. Kekalahan kandidat presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton diyakini terjadi karena campur tangan Rusia dalam pemilu kala itu.

Pada pemilu 2020 lalu, beberapa pejabat AS kembali memperingatkan akan campur tangan Rusia.

Meski kerap dituding melakukan campur tangan, namun pemerintah Rusia termasuk Putin, tetap membantah tudingan itu.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]