Orang Gayo Melawan Wabah

Liputan6.com, Aceh - Coronavirus Disease (Covid-19) masih belum teratasi. Orang-orang masih diliputi rasa gelisah, tidak ada yang dapat menjamin seseorang terelak dari jangkitan wabah virus corona yang disebut-sebut pertama kali muncul di Wuhan, Cina.

Pagebluk telah menjadi peristiwa kahar, riskan, maka taat pada protokol yang dianjurkan otoritas kesehatan jadi satu-satunya cara agar terhindar dari paparan virus berkode SARS-CoV-2, selama vaksin masih dikembangkan. Bukankah para generasi terdahulu pernah melewati rentetan sejarah kelam yang serupa?

Diakui ataupun tidak, berdasarkan pelbagai narasi sejarah, dapat disimpulkan bahwa dunia tidak pernah luput dari kisah mengenai wabah. Ianya ada bahkan bermutasi adaptif seiring perkembangan zaman, kendati manusia telah menginjakkan kaki di bulan dan memiliki teknologi canggih yang telah melampaui kemampuan manusia.

Hal ini pula yang membuat Liputan6.com mencoba mengulas secara sederhana ringkasan sejarah tentang wabah dan bagaimana manusia bertahan melaluinya. Mari alihkan pandangan mata sejenak ke Aceh, tepatnya, Dataran Tinggi Gayo.

Pegiat budaya dan sejarah Gayo, Zulfikar Ahmad, yang senang menerjemahkan pelbagai literasi tentang Gayo yang berbahasa Belanda yakin bahwa penduduk di daerah tersebut pernah menerapkan herd immunity (kekebalan kelompok) dalam menghadapi pagebluk.

Ia mengambil landasan sejumlah buku berbahasa Belanda yang menyinggung masalah wabah di Gayo, ditulis oleh J. Kreemer, C. Snouck, dan Hazeu. Para antropolog tersebut menjelaskan kondisi wabah yang telah menelan nyawa manusia hingga hewan.

Sebuah desa bernama Owaq pernah dikosongkan, di mana penduduk yang tersisa membentuk belah di Toweren dan Kuala Bintang sebagai penduduk reje Gegerang. Kala itu, ratusan orang tewas karena wabah kolera.

Tidak hanya manusia, wabah juga menyerang kerbau (wabah hewani) —orang Aceh menyebut wabah yang menyerang hewan dengan nama ta'eun— pada 1877 atau tiga tahun setelah wabah kolera menyerang. Sempat terjadi pula kelaparan hebat sehingga penduduk mengungsi ke daerah Alas.

Hampir tidak ada yang bisa dilakukan oleh penduduk kala itu kecuali menggelar tolak bala, membuat uris (mantra), dan i-tawari. Ini pula yang membuat Zulfikar yakin bahwa hal paling berat yang bisa dilakukan saat itu ialah membiarkan orang terinfeksi sebanyak mungkin, di mana semua diserahkan pada keimunan tubuh seseorang.

"Jika bisa bertahan hidup, ia akan kebal. Semakin banyak yang kebal, maka, semakin berkurang infeksi bakteri atau virus tersebut," terang Zulfikar, dihubungi Liputan6.com via seluler, Kamis malam (11/06/2020).

Seorang warga Gayo lainnya, Sertaliya, bercerita bahwa menurut kisah yang dituturkan oleh kakeknya, terdapat suatu masa di mana Desa Linge pernah diterpa wabah serupa penyakit kulit. Adapun desa yang terkena wabah tersebut dipagari di mana orang-orang tidak diizinkan keluar masuk.

"Kulitnya semua gatal, orang tidur di atas daun pisang, tidak bisa pakai baju lagi, sampai seperti kejadiannya," kata dia.

Namun, belum dapat disimpulkan apakah tindakan tersebut masuk dalam kategori Pembatasan Sosial Berskala Besar (PPSB) atau istilah-istilah lain yang digunakan dalam pandemi saat ini.

Bisa saja yang terjadi pada saat itu adalah isolasi (pengasingan) atau karantina, kendati ada pula yang mengatakan bahwa salah satu tradisi tulak bala di Gayo semasa wabah adalah mengurung diri di rumah masing-masing dengan melaksanakan ritual penyerahan diri melalui perantara dukun.

Simak juga video pilihan berikut ini: