Orang Korea Punya Sederet Alasan untuk Tetap Pakai Masker Meski Pandemi Usai

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Di Korea Selatan, sebelum Covid-19, masker sebagian besar digunakan para selebritis untuk menutup wajah mereka atau dipakai orang pada hari ketika tingkat polusinya tinggi.

Hampir dua tahun berlalu sejak memakai masker menjadi kewajiban di berbagai tempat umum di negara tersebut.

Namun, pemakaian masker di Korea Selatan tampaknya bakal segera kembali menjadi pilihan pribadi lagi ketika negara itu berhasil mengatasi gelombang infeksi Covid varian Omicron.

Angka infeksi harian turun, dan pendekatan pemerintah untuk mengatasi pandemi berubah, di mana negara itu mulai mencoba untuk hidup dengan virus dan Covid-19 diperlakukan lebih seperti penyakit endemik.

Pemerintah telah mencabut pembatasan jam operasional fasilitas-fasilitas tertentu dan jumlah maksimal orang yang diizinkan menghadapi perkumpulan. Masker, saat ini, masih diwajibkan.

Namun tampaknya tidak semua orang siap melepaskan masker. Beberapa orang menemukan manfaat tak terduga memakai penutup wajah itu, sedangkan yang lainnya masih takut terinfeksi virus corona.

"Awalnya tidak nyaman, tapi sekarang saya biasa memakai masker di manapun - di kantor, di transportasi publik, dan di pusat kebugaran. Akan terasa aneh tidak menutup wajahku di depan orang lain," kata seorang pegawai kantoran di Seoul, Choi Young Kyung (28).

"Dan jujur saja, saya suka saya bisa menutup setengah wajah saya ketika saya berbicara dengan atasan saya di tempat kerja. Mereka sepertinya tidak memperhatikan saya tersenyum hanya dengan mata saya, tidak dengan mulut saya, keahlian bermanfaat yang saya miliki berkat masker," lanjutnya, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (20/4).

Beberapa orang berencana tetap memakai masker karena telah terbukti efektif mencegah penyakit lainnya, tidak hanya virus corona.

"Sebelum pandemi, saya sering mengalami sakit tenggorokan dan pilek. Saya belum mengalami gejala apapun selama dua tahun terakhir, yang berarti masker sangat efektif mencegah penyakit lain," kata pemilik restoran di Seoul, Lee Jae Gil (55).

"Saya mungkin akan tetap memakainya kecuali selama hari-hari terpanas pada musim panas," lanjutnya.

Seorang mahasiswa di Universitas Korea, Lee (22) juga mengatakan akan tetap memakai masker karena takut terkena virus. Apalagi saat ini dia mulai menjalai kuliah tatap muka dan berbagai kegiatan dilakukan di kampus.

"Bahkan walaupun kewajiban masker dicabut untuk luar ruangan, saya akan tetap memakaianya di manapun," ujarnya.

Profesor psikologi Universitas Dankook, Lim Myung Ho mengatakan, walaupun Korea Selatan memberikan pilihan memakai masker kepada setiap individu, masker tidak akan segera menghilang.

"Sebelum krisis kesehatan, masker dianggal hanya dipakai oleh orang yang sakit atau mereka yang sangat khawatir dengan kesehatan mereka. Sekarang, itu telah menjadi cara yang berguna untuk menutup wajah kita untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan, dan itu juga menjadi tanda menunjukkan rasa hormat kepada orang lain," paparnya.

Lim menjelaskan, akan membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk terbiasa dengan interaksi tatap muka di dunia pascapandemi.

Sifat kolektivis

Para ahli juga menekankan, tidak seperti negara-negara Barat di mana kewajiban masker diprotes melalui gerakan unjuk rasa karena dianggap melanggar kebebasan pribadi, perdebatan semacam itu tidak terjadi di Korea Selatan.

Ahli sosiologi Universitas Sungkyunkwan, Koo Jeong Woo mengatakan hal ini mencerminkan "sifat kolektivis" orang Korea.

"Orang Korea tidak hanya terbiasa menaati aturan yang ditetapkan pemerintah, mereka juga takut menonjol. Walaupun memakai masker tidak diwajibkan di luar ruangan jika tetap menjaga jarak satu sama lain, setiap orang memakainya, karena mereka khawatir soal pandangan orang lain," jelasnya.

Koo juga memprediksi walaupun aturan masker dicabut, mayoritas masyarakat akan tetap memakainya di tempat-tempat umum seperti subway dan pusat kebugaran.

"Masker wajah adalah alat yang sangat penting untuk mencegah infeksi, tapi itu mengkhawatirkanku bahwa dampak negatifnya pada masyarakat diabaikan," jelasnya.

"Menutup sebagian wajah kita saat ngobrol mengganggu interaksi sosial dan kemampuan berbagi emosi," pungkasnya. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel