Orang tua di Aceh diminta jadikan kasus polio sebagai pembelajaran

Dinas Kesehatan Aceh meminta para orang tua menjadikan kasus polio atau lumpuh layu yang menyerang bocah berinisial A (7) di Kabupaten Pidie sebagai pembelajaran penting, terutama terkait dengan imunisasi dasar lengkap bagi anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Iman Murahman di Banda Aceh, Senin, mengatakan bocah itu tidak memiliki riwayat imunisasi.

Orang tuanya, katanya, juga menyesal karena mendengar anjuran dari beberapa pihak untuk tidak memberikan anaknya imunisasi.

“Semoga dengan kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua lainnya di Aceh,” katanya.

Ia menjelaskan A tidak pernah mendapatkan imunisasi dasar, khususnya vaksin polio. Orang tua A memilih tidak melakukan imunisasi karena anjuran beberapa pihak. Menurut penilaian orang tua, anak yang kejang tidak perlu diberikan imunisasi.

"Sehingga orang tuanya mengikuti dan memang hingga saat ini pemberian imunisasi kepada anak ini tidak ada," ujarnya.

Baca juga: Dinkes sebut kondisi pasien polio di Aceh semakin membaik

Oleh sebab itu, kata dia, karena capaian imunisasi yang rendah sehingga pada saat virus polio masuk, membuat anak dengan mudah terinfeksi.

"Seharusnya jika mendapatkan imunisasi rutin dan mendapatkan tetesan polio dan vaksin injeksi tipe 2 itu sebenarnya walaupun virusnya ada tapi tidak akan terkena lumpuh," ujarnya.

Ia menambahkan polio hanya dapat dicegah dengan imunisasi. Penyakit ini menular dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, bahkan kematian terutama pada anak usia di bawah lima tahun yang tidak mendapat imunisasi polio secara lengkap.

Gejala awal polio seperti demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher, dan nyeri di tungkai. Virus polio masuk tubuh melalui mulut, bersumber dari air atau makanan yang telah terkontaminasi dengan tinja orang yang terinfeksi.

Baca juga: Dinkes: Anak di seluruh Aceh akan mendapat vaksin polio tetes

Gejala biasanya muncul setelah 7-10 hari setelah terinfeksi, namun juga dapat terjadi dalam rentang 4-35 hari. Virus di tinja dapat bertahan selama 3-6 minggu, sehingga perilaku buang air besar sembarangan (BABS) meningkatkan risiko infeksi polio.

Ia mengatakan tidak ada obat untuk polio. Tata laksana kasus lebih ditekankan pada tindakan suportif dan pencegahan terjadinya cacat, sehingga anggota gerak diusahakan kembali berfungsi senormal mungkin.

“Penemuan dini dan perawatan dini penting untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah bertambah beratnya cacat,” ujarnya.

Penyakit polio berbahaya namun mudah dicegah dengan imunisasi polio lengkap serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti BAB di jamban, cuci tangan pakai sabun dan menggunakan air matang untuk makan dan minum.

Baca juga: Wapres Ma'ruf minta polio di Aceh segera diatasi sebelum tersebar luas
Baca juga: IDAI : Polio jadi KLB bukti bahwa imunisasi tidak boleh dilewatkan
Baca juga: Heru gencarkan vaksinasi polio di Jakarta