Orangtua Meninggal, Fadil Nyaris Tembak Dokter RSU Banda Aceh

Tembak Pengunjung Saritem, Briptu J Ditahan di Polrestabes Bandung
Tembak Pengunjung Saritem, Briptu J Ditahan di Polrestabes Bandung

Laporan Wartawan Serambi Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Suasana di Ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Rabu (7/9/2011) pagi sekitar pukul 07.00 WIB geger.

Seorang keluarga pasien mengamuk dan sempat mengeluarkan pistol lalu mengancam menembak seorang dokter.

Pelaku disebut-sebut kecewa karena orangtuanya lambat dioperasi sehingga nyawanya tak tertolong.

Ihwal terjadinya insiden di Ruang HCU-RSUZA merebak ke luar setelah sejumlah perawat yang jadi korban pemukulan meminta tolong kepada seorang loper (pengecer) koran untuk memberitahukan kasus itu ke wartawan.

Perawat tak terima perlakuan kasar keluarga pasien terhadap mereka, termasuk terhadap dr Rozi Fadhori (29).

Kejadian itu bermula ketika seorang keluarga pasien yang disebut-sebut bernama Fadil mengamuk saat mengetahui orangtuanya, Kartini binti Abdullah (55) meninggal sebelum sempat menjalani operasi.

Dia menilai dokter lambat melakukan tindakan operasi sehingga nyawa orangtuanya tak tertolong. Fadil yang saat itu bersama enam rekannya langsung mengamuk sambil menyerang dr Rozi Fadhori.

Tiga perawat berusaha membantu dan melerai. Namun dua perawat, yaitu Hamdardi (26) dan Jul Efendi (27) malah dipukul menyebabkan bibir korban robek bibir dan luka memar.

Fadil dilaporkan sempat mengeluarkan pistol dan mengancam menembak dokter. Melihat gelagat tak menguntungkan itu, dr Rozi secepatnya lari mengamankan diri.
“Sambil memukul Hamdardi dan Jul Efendi, pelaku mengeluarkan pistol mengancam tembak dokter,” kata seorang saksi mata.

Beberapa saat setelah kasus itu, polisi sempat datang ke Ruang HCU. Tak lama kemudian pelaku berhasil diamankan ke ruang IGD. Pada Rabu pagi kemarin, pihak korban, yaitu dr Rozi Fadhori bersama dua perawat, Hamdardi dan Jul Efendi melaporkan secara resmi kasus pemukulan dan pengancaman tembak itu ke Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh.

Polisi masih mengusut kasus tersebut. Seorang sumber polisi di Polresta Banda Aceh mengatakan, pemeriksaan nanti dilanjutkan, termasuk mencari Fadil cs.

Hasil visum korban juga belum keluar, namun yang terlihat dan sesuai hasil pengakuan korban, Hamdardi menderita pecah bibir dan memar di dahi kiri, sedangkan dr Rozi dan Jul Efendi mengaku pening-pening.

Polisi juga belum tahu status Fadil. “Dugaan sementara pelaku marah karena merasa orang tuanya belum dilayani maksimal oleh dokter sehingga meninggal,” kata sumber Serambi di Polresta.